Kecerdasan buatan atau AI belum memicu pengangguran massal, tetapi perlahan merestrukturisasi pekerjaan dan pasar tenaga kerja.
Dampak paling terlihat terjadi pada tugas-tugas berulang, sementara peluang karier bagi pekerja muda menyusut secara signifikan.
Sistem otomatis kini mampu melakukan pengolahan kata, penyusunan dokumen, pembuatan kode sumber, hingga agregasi data.
Berbagai tugas khusus yang sebelumnya dikerjakan pekerja kantor pun mulai ditangani mesin.
Pembagian Kerja, Bukan Sekadar Penggantian
Data terbaru menunjukkan ceritanya tidak berhenti pada mesin menggantikan manusia.
Laporan Organisasi Buruh Internasional (ILO) mencatat sekitar 11,5 juta pekerja di Vietnam, atau seperlima angkatan kerja, melakukan pekerjaan yang terpengaruh GenAI.
Namun, hanya sekitar 1 juta pekerja yang menjalani pekerjaan sangat terstandarisasi dan mudah digantikan AI.
ILO mengidentifikasi skenario paling umum sebagai pembagian pekerjaan: AI mengotomatiskan sebagian tugas, sementara manusia menangani proses yang tersisa.
Tren ini bersifat global.
Laporan Stanford University AI Index 2026 menunjukkan 88% organisasi yang disurvei telah menerapkan AI di setidaknya satu fungsi operasional.
Sebanyak 70% bisnis juga menerapkan GenAI ke dalam operasional mereka.
Investasi swasta global di bidang AI diproyeksikan tumbuh sebesar 127,5% pada tahun 2025.
