Pemahaman tentang kehidupan laut dan pengelolaan sumber daya perikanan global memasuki babak baru berkat kemajuan teknologi.
Ilmuwan kini beralih dari metode tradisional yang memakan waktu dan biaya besar ke pendekatan inovatif, yakni melacak pergerakan nelayan untuk memahami pergerakan ikan.
David Kroodsma, Kepala Ilmuwan di organisasi nirlaba Global Fishing Watch, menyebut habitat ikan yang jauh di bawah permukaan laut sebagai tantangan utama.
Berbeda dengan hewan darat yang bisa dipantau lewat kamera atau satelit, ikan sulit dideteksi secara langsung.
Kondisi itu membuat penentuan lokasi ikan, ukuran populasi, dan pola migrasi menjadi tugas rumit.
Kroodsma menjelaskan pihaknya memperkenalkan metode baru yang memanfaatkan data digital dan kecerdasan buatan atau AI untuk menciptakan gambaran lebih jelas mengenai aktivitas penangkapan ikan global.
Pernyataan itu disampaikannya dalam sebuah artikel di abc7news. com.
Data AIS dan Analisis Machine Learning
Metode ini bertumpu pada Automatic Identification System (AIS), transponder yang wajib dipasang pada kapal-kapal besar untuk mencegah tabrakan di laut.
Melalui AIS, Global Fishing Watch mengumpulkan miliaran titik data mengenai posisi kapal di seluruh dunia.
Data tersebut tidak hanya membantu memantau aktivitas penangkapan ikan, tetapi juga berpotensi mendeteksi ancaman seperti penangkapan ikan berlebih atau overfishing.
Data dalam jumlah besar itu kemudian dianalisis menggunakan algoritma pembelajaran mesin atau machine learning.
Analisis ini bertujuan mengidentifikasi jenis dan aktivitas kapal, serta menentukan apakah sebuah kapal sedang aktif menangkap ikan.
Menurut Kroodsma, teknologi AI memungkinkan pihaknya mengubah data mentah menjadi informasi yang bermakna untuk pemantauan laut.

