⌂ Home News Mengapa Kisah Berlebihan Begitu Berdampak pada Anda?
News

Mengapa Kisah Berlebihan Begitu Berdampak pada Anda?

Ilustrasi seseorang yang ragu mendengarkan cerita
Ilustrasi seseorang yang ragu mendengarkan cerita
A A Text Size16px

Seorang pembaca menceritakan pengalamannya dengan teman baru di kantor yang kerap bercerita tentang kejadian dramatis, termasuk dugaan kanker.

Ia merasa harus percaya, namun instingnya mengatakan cerita itu berlebihan.

Ia pernah mengalami situasi serupa di masa lalu ketika seorang teman universitas berbohong tentang kanker. Pengalaman itu meninggalkan luka dan membuatnya sulit mempercayai orang lain.

Perspektif Psikolog

Psikolog dan psikoanalis Prof Alessandra Lemma menilai masalah utama bukanlah apakah teman itu berbohong, melainkan posisi emosional yang dialami pembaca.

Lemma mengatakan pembaca tidak melihat teman barunya secara netral, tetapi melalui bayang-bayang hubungan sebelumnya.

Lemma juga mencatat bahwa pembaca tampak terjebak di antara dua posisi kaku: percaya sepenuhnya atau menjadi orang yang kejam.

Ketidakpastian terasa sulit ditoleransi.

Pembaca merasa harus memutuskan secara moral sebelum bisa tenang. Namun, Lemma menekankan bahwa tidak perlu memutuskan secara definitif.

Menanggapi dengan Bijak

Lemma menyarankan untuk tidak menjadi detektif. Cukup berikan respons simpati manusiawi seperti "Kedengarannya berat" tanpa harus memutuskan kebenaran setiap detail.

Penting untuk memiliki batasan. Lemma menyarankan untuk menoleransi ketidakpastian, tidak mudah percaya maupun menghukum.

Pertanyaan yang lebih berguna adalah: mengapa saya merasa terdorong untuk memutuskan?

Kebenaran mungkin terletak pada penderitaan yang ditunjukkan oleh kebohongan itu, bukan pada detail faktanya.

About the Author
📰 Latest Updates