⌂ Beranda News PDPOTJI: Tidak Semua Ramuan Herbal Bisa Disebut Jamu

PDPOTJI: Tidak Semua Ramuan Herbal Bisa Disebut Jamu

PDPOTJI: Tidak Semua Ramuan Herbal Bisa Disebut Jamu
Ramuan jamu tradisional Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) menegaskan bahwa tidak semua ramuan herbal dapat dikategorikan sebagai jamu.

Pernyataan ini disampaikan dalam siaran langsung Instagram Kementerian Kesehatan untuk meluruskan persepsi masyarakat.

>>> IHSG Dibuka Melemah ke Level 6.161, Rupiah Masih Tertekan

Menurut Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023, jamu termasuk dalam obat bahan alami.

Regulasi tersebut membagi produk obat bahan alami menjadi empat golongan: jamu, obat herbal terstandar, fitofarmaka, dan obat bahan alam lainnya.

Ketua Umum PDPOTJI, Dr dr Inggrid Tania MSi, menjelaskan bahwa jamu adalah obat bahan alam yang memiliki riwayat tradisional.

Status ini didukung oleh bukti empiris karena telah dikonsumsi secara turun-temurun oleh masyarakat Indonesia.

>>> Ketahui Jam Operasional dan Waktu Istirahat Bank BRI Terbaru

“Diturunkan dari nenek moyang bangsa Indonesia hingga generasi sekarang, yang digunakan untuk pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan, upaya rehabilitatif, dan paliatif,” ujar dr Inggrid.

Keamanan jamu didasarkan pada riset etnofarmakologi dan etnobotani yang memperkuat bukti pemakaian selama puluhan hingga ratusan tahun.

Namun, dr Inggrid mengingatkan bahwa pengolahan dan dosis yang tidak tepat dapat menghilangkan jaminan keamanan tersebut.

>>> Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap Polda Metro Jaya

“Ramuan-ramuan itu bisa dikatakan aman karena sudah ada bukti dokumentasi pemakaian dari puluhan atau ratusan tahun lalu sampai sekarang, dengan cara meramu yang sesuai,” terangnya.

Faktor seperti kesalahan pemilihan tanaman, proses produksi tidak higienis, penyalahgunaan alat, dan ketidaktepatan takaran membuat ramuan herbal belum bisa dinyatakan aman.

“Kalau yang tidak sesuai, misalnya dari sisi pemilihan tanamannya, cara produksinya kurang benar, pemakaian alat-alatnya kurang benar, produksi kurang higienis, takaran bahan kurang tepat, itu akhirnya bisa kita bilang belum tentu aman,” jelas dr Inggrid.

Masyarakat diimbau untuk lebih teliti karena status alami suatu bahan mentah tidak menjadi jaminan mutlak bahwa produk tersebut aman dikonsumsi.

>>> RUPS PLN Resmi Tambah Posisi Wakil Direktur Utama, Yusuf Didi Setiarto Ditunjuk

“Jadi, bukan berarti segala yang alami itu pasti aman,” tegas dr Inggrid.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru