The James F.
Sundah Foundation dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta resmi meluncurkan program beasiswa riset yang berfokus pada isu hak cipta dan kekayaan intelektual.
>>> Pemerintah Bentuk Tim Pengadaan Batubara untuk Atasi Krisis Pasokan PLN
Pengumuman program fellowship ini bertepatan dengan peringatan 40 hari wafatnya komposer legendaris Indonesia, James Freddy Sundah, yang meninggal pada 2026.
Yayasan yang berbasis di New York, Amerika Serikat, ini didirikan oleh istri almarhum, Priscillia Sundah Suntoso, dengan tujuan menjaga dan melanjutkan warisan karya serta pemikiran James Sundah.
Program Beasiswa untuk Mahasiswa Tingkat Akhir
Melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan ISI Yogyakarta, kedua pihak sepakat menyelenggarakan James F. Sundah Fellowship Program.
Beasiswa ini ditujukan bagi mahasiswa tingkat akhir yang melakukan penelitian mengenai hak cipta, royalti, kekayaan intelektual, dan perlindungan karya kreatif.
Kajian riset juga mencakup hak-hak pencipta hingga perkembangan regulasi dan kebijakan kekayaan intelektual di era digital.
Program ini turut menggandeng AAPI Creative New York, sebuah jaringan kreatif diaspora Asia dan Kepulauan Pasifik yang berbasis di New York.
>>> Polsek Pinggir Tangkap Tiga Tersangka Narkoba di Kandis Siak
Sejumlah tokoh lintas bidang dilibatkan sebagai anggota komite seleksi, antara lain Adi Harsono, Aminoto Kosin, Dahlan Iskan, Naratama Rukmananda, dan Wendi Putranto.
Priscillia Sundah Suntoso mengatakan pendirian yayasan merupakan amanah dari suaminya untuk menjaga dan mengelola warisan intelektual yang ditinggalkan.
"James selalu mengatakan, 'no song, no music industry,' sebuah keyakinan bahwa para pencipta adalah fondasi industri musik dan harus dihargai serta dilindungi hak-haknya," ujarnya.
Melalui program fellowship ini, ia berharap dapat mendorong lahirnya penelitian yang memperkuat pemahaman mengenai hak cipta dan kekayaan intelektual.
Rektor ISI Yogyakarta, Prof. Dr. Irwandi, M. Sn.
, menyambut baik kolaborasi tersebut karena riset mengenai kekayaan intelektual masih menjadi kebutuhan penting di lingkungan seni dan budaya Indonesia.
>>> Drama China Ashes to Crown Tayang Mulai Juni 2026 di Youku dan Netflix
"ISI Yogyakarta menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif kerja sama dan beasiswa dari The James F. Sundah Foundation untuk mendukung riset mahasiswa," katanya.
Menurutnya, hal ini akan memperkuat literasi yang dibutuhkan masyarakat seni dan khalayak luas, terutama terkait aspek kekayaan intelektual seniman.
Wendi Putranto, anggota dewan seleksi beasiswa, menilai kontribusi terbesar James Sundah terletak pada gagasannya terkait posisi pencipta lagu dalam industri musik.
"Warisan terbesar James F.
Sundah bukan hanya ada di lagu-lagunya, melainkan juga berbagai pemikiran serta perjuangannya untuk menempatkan pencipta lagu pada posisi yang layak dan strategis," ujarnya.
Beasiswa riset ini menjadi cara yang tepat untuk meneruskan pemikiran tersebut kepada generasi baru melalui penelitian dan pendidikan.
>>> Adopsi AI dan Efisiensi Picu Gelombang PHK Pekerja Berpendapatan Tinggi
Pendaftaran program beasiswa riset perdana ini dijadwalkan dibuka pada Tahun Akademik 2026–2027.