Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan hingga pertengahan perdagangan hari ini.
Berdasarkan data Bloomberg Technoz, IHSG merosot 1,06% ke level 6.154 pada jeda Sesi I.
>>> Ramalan Zodiak Cinta: Kunci Keharmonisan Hubungan Asmara
Penurunan ini dipicu oleh tekanan jual besar-besaran pada saham perbankan unggulan.
Aktivitas perdagangan tercatat dengan volume 14,92 miliar saham dan nilai transaksi Rp10,07 triliun. Frekuensi perdagangan mencapai 1,07 juta kali transaksi.
Sebanyak 417 saham bergerak melemah, 158 saham stagnan, dan hanya 226 saham yang mampu menguat.
IHSG sudah berada di zona merah sejak prapembukaan dan sempat menyentuh level terendah 6.073.
Sentimen The Fed dan Pelemahan Rupiah
Koreksi pasar terjadi di tengah kecemasan terhadap sinyal Bank Sentral Amerika Serikat yang berencana menaikkan suku bunga pada akhir tahun 2026.
Federal Reserve mengambil langkah tersebut untuk meredam dampak konflik Timur Tengah terhadap inflasi.
>>> Bandai Namco Umumkan Game Aksi Mecha Gundam Rogue Orbit, Rilis 2027
Pengumuman arah kebijakan moneter ini menjadi momentum pertama bagi Kevin Warsh yang menjabat sebagai Gubernur The Fed yang baru.
Meskipun FOMC sepakat mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5%–3,75%, pejabat Bank Sentral menegaskan inflasi masih tinggi.
Pelaku pasar mengantisipasi kenaikan suku bunga karena Federal Reserve lebih mengutamakan stabilitas harga daripada lapangan kerja.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menyatakan perhatian utama investor global tertuju pada hasil pertemuan FOMC terkait Fed Rate dan Proyeksi Ekonomi.
Median proyeksi Fed Funds Rate per Juni 2026 naik menjadi 3,8% dari sebelumnya 3,4% pada Maret 2026.
Kenaikan ini mengindikasikan peluang kenaikan Fed Rate sebesar 25 bps pada Desember 2026 mendatang.
"Arah kebijakan The Fed ini masih dipandang hawkish oleh kalangan pelaku pasar," papar Mirae Asset dalam catatan hariannya, Kamis.
>>> OJK Tetapkan Jajaran Direksi BEI Periode 2026-2030, Jeffrey Hendrik Jadi Dirut
Di dalam negeri, pasar mengantisipasi hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas mata uang.
Konsensus memproyeksikan BI Rate akan dinaikkan sebesar 25 bps menuju level 5,75%.
Mirae Asset menyarankan investor untuk melakukan akumulasi pada saham pilihan dengan fundamental kuat.
"Fokus pada saham bervaluasi murah; fokus terhadap saham yang menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen risiko dengan disiplin," tulisnya.
Tekanan terhadap pasar modal semakin berat seiring pelemahan nilai tukar rupiah di pasar spot.
Mata uang Garuda terkoreksi 0,33% ke posisi Rp17.796 per dolar AS berdasarkan data siang hari ini.
>>> Menteri ESDM Wajibkan Penambang Dapatkan Izin Pencampuran Batu Bara
Pergerakan Saham Perbankan Besar
Tekanan jual yang besar berdampak langsung pada kejatuhan harga saham-saham unggulan di sektor perbankan pada jeda Sesi I.
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turun 100 poin (3,24%) ke Rp2.980 dengan total transaksi Rp524 miliar.
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 100 poin (2,22%) ke Rp4.390 dengan total transaksi Rp417 miliar.
- PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) turun 70 poin (1,84%) ke Rp3.730 dengan total transaksi Rp116 miliar.
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) turun 100 poin (1,59%) ke Rp6.175 dengan total transaksi Rp650 miliar.