Musisi asal Kanada Ashley MacIsaac menggugat Google sebesar US$1,5 juta atau sekitar Rp24 miliar. Gugatan diajukan ke Pengadilan Tinggi Ontario pada Kamis (18/6/2026).
Langkah hukum ini dipicu oleh fitur AI Overview milik Google yang menampilkan informasi palsu. Sistem kecerdasan buatan itu menuduh MacIsaac melakukan kejahatan seksual.
>>> Kekayaan Elon Musk Tembus Rp23.000 Triliun, Lampaui Kapitalisasi Bitcoin
AI Overview secara keliru menyimpulkan bahwa peraih tiga penghargaan Juno Awards tersebut pernah dihukum atas kasus penyerangan seksual.
Tuduhan itu mencakup penganiayaan dan bujukan seksual terhadap anak melalui internet.
Sistem tersebut bahkan menyebut nama MacIsaac telah terdaftar seumur hidup dalam registrasi nasional pelaku kejahatan seksual di Kanada.
>>> Jhon Arias Bersinar di Laga Perdana Kolombia di Piala Dunia 2026
Informasi itu sepenuhnya tidak benar.
Dampak dari kekeliruan sistem langsung merugikan reputasi digital sang musisi. Salah satu jadwal konser MacIsaac di Nova Scotia dibatalkan secara sepihak oleh penyelenggara.
>>> Moonton Rilis Kode Redeem ML 18 Juni 2026, Klaim Diamond dan Skin Gratis
Pembatalan terjadi setelah pihak manajemen menemukan informasi keliru tersebut melalui hasil pencarian Google. MacIsaac menuntut ganti rugi yang terbagi dalam tiga bagian.
Masing-masing senilai US$500.000 untuk ganti rugi umum, ganti rugi tambahan, serta ganti rugi hukuman.
Google dinilai harus bertanggung jawab penuh atas kecacatan desain dan keluaran AI Overview.
>>> Pertamina Resmi Naikkan Harga Pertamax Jadi Rp16.250 per Liter
Tuduhan kejahatan serius itu juga menimbulkan tekanan psikologis bagi MacIsaac. Ia mengkhawatirkan keselamatan pribadinya setelah informasi palsu beredar luas di internet.