⌂ Beranda News Rupiah Melemah ke Rp17.845 Per Dolar AS akibat Sikap Hawkish The Fed

Rupiah Melemah ke Rp17.845 Per Dolar AS akibat Sikap Hawkish The Fed

Rupiah Melemah ke Rp17.845 Per Dolar AS akibat Sikap Hawkish The Fed
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada sesi perdagangan Kamis, 18 Juni 2026. Pelemahan ini terjadi seiring dengan menguatnya indeks dolar AS ke level 100,23.

Mata uang garuda tergerus 0,6 persen ke posisi Rp17.845 per dolar AS, berdasarkan data Bloombergtechnoz. Tren penurunan ini juga melanda sejumlah mata uang di kawasan Asia.

>>> Pemerintah Siap Terapkan BBM B50 Mulai 1 Juli 2026

Beberapa mata uang yang turut melemah antara lain won Korea Selatan, ringgit Malaysia, peso Filipina, baht Thailand, serta dolar Taiwan dan Hong Kong.

Tekanan di pasar uang dipicu oleh kebijakan bank sentral AS, Federal Reserve, yang mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen sampai 3,75 persen.

Ekspektasi suku bunga AS yang bertahan tinggi dalam waktu lama mendorong kenaikan imbal hasil aset dolar.

Hal tersebut meningkatkan daya tarik investasi di pasar AS dan menekan aliran modal ke negara berkembang.

Pasar kini tengah mengamati potensi dampak inflasi yang berisiko muncul akibat konflik bersenjata antara AS dan Iran.

>>> Petugas Gabungan Tindak Ratusan Motor Parkir Liar di Kembangan

Situasi ini memperkuat perkiraan bahwa suku bunga global akan tetap tinggi atau bahkan naik lagi.

Analis Valas Bloomberg Economics, Audrey Childe-Freeman, menyebut langkah hawkish Federal Reserve membuat bank sentral di Asia masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga lebih lanjut.

Menurut Audrey, pelemahan dolar AS yang lebih berkelanjutan terhadap mata uang Asia masih memerlukan sikap dovish dari Federal Reserve agar pasar dapat memperhitungkan peluang penurunan suku bunga.

"Tanpa sinyal tersebut, ekspektasi pelonggaran moneter AS akan tetap terbatas," sebut Childe-Freeman dalam catatannya.

Sebaliknya, jika bank sentral AS mulai membuka ruang penurunan suku bunga, tekanan bagi bank sentral di Asia untuk mengetatkan kebijakan diperkirakan bakal berkurang.

"Kondisi tersebut dapat menjadi katalis positif bagi mata uang kawasan, terutama negara-negara pengimpor minyak bersih seperti Korea Selatan dan Filipina," katanya.

>>> Pelayaran Selat Hormuz Butuh Waktu untuk Normal Pasca Kesepakatan AS-Iran

Merespons sikap hawkish bank sentral AS, Bank Indonesia (BI) diproyeksikan akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 5,75 persen berdasarkan konsensus ekonom.

Langkah ini berpotensi menggenapi kebijakan agresif BI yang sebelumnya telah menaikkan suku bunga sebesar 75 bps dalam kurun waktu satu bulan terakhir.

Kendati demikian, sejumlah ekonom memperkirakan BI akan mempertahankan BI Rate pada level 5,5 persen untuk menghindari lonjakan biaya pembiayaan atau cost of fund.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk, Josua Pardede, menilai probabilitas BI untuk menahan suku bunga acuan berada di angka 80 persen sampai 90 persen.

Sementara itu, peluang kenaikan lanjutan sebesar 25 bps dinilai masih terbuka walaupun relatif kecil, yakni sekitar 10 persen hingga 20 persen.

>>> PN Jakpus Eksekusi Lahan Eks Hotel Sultan Hari Ini

Keputusan resmi mengenai penetapan suku bunga acuan BI Rate akan diumumkan setelah Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Juni selesai digelar pada siang hari.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru