Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Senin (15/6/2026) dengan penguatan signifikan.
Indeks melesat 4,12 persen dan parkir di posisi 6.254. Sebelumnya, IHSG sempat menyentuh level tertinggi di 6.345 pada siang hari.
>>> Danantara Terbitkan Obligasi Global Perdana Senilai 1,5 Miliar Dolar AS
Volume transaksi mencapai 54,61 miliar saham. Nilai jual-beli saham secara keseluruhan mencapai Rp30,14 triliun dengan frekuensi 3,25 juta kali.
Sebanyak 603 saham berhasil membukukan penguatan. Sementara itu, 125 saham mengalami penurunan dan 90 saham stagnan.
Pencapaian ini menempatkan IHSG di peringkat keempat bursa Asia.
Pergerakan bursa regional didominasi zona hijau, dipimpin PSEi (Filipina) yang naik 6,14 persen, diikuti KOSPI (Korea Selatan) 5,2 persen, dan NIKKEI 225 (Jepang) 4,99 persen.
Sentimen Damai Global Dorong Pasar
Lonjakan indeks didorong sentimen positif dari kesepakatan damai antara AS dan Iran. Presiden AS Donald Trump mengonfirmasi bahwa kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah rampung.
>>> Kementerian ESDM Usul Rp815,56 Miliar untuk Konversi Kompor Listrik
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, juga mengonfirmasi hal tersebut.
Delegasi kedua negara bersiap mengadakan pertemuan resmi di Swiss pada Jumat (19/6/2026) setelah merampungkan draf Nota Kesepahaman (MoU) perdamaian.
"Kesepakatan dengan Republik Islam Iran telah rampung," tulis Trump dalam unggahan pribadinya.
Gharibabadi memastikan Iran telah memasukkan semua posisi penting ke dalam draf MoU. Teks lengkap dokumen perdamaian akan dipublikasikan setelah upacara resmi di Swiss.
Phintraco Sekuritas menyebutkan kabar kesepakatan damai ini menjadi pemicu utama penguatan indeks.
Ekspektasi pulihnya jalur pelayaran di Selat Hormuz mendorong koreksi harga minyak dunia hingga di atas 4 persen ke level US$80 per barel (WTI) dan US$83 per barel (Brent).
>>> IHSG Meroket 4,3 Persen, Saham Emas Berpotensi Reli
"Optimisme akan kesepakatan damai dan dibukanya kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, mendorong koreksi harga minyak lebih dari 4% hingga level US$80/barel (WTI) dan US$83/barel (Brent)," papar Phintraco dalam catatan terbarunya.
Turunnya harga minyak mentah dunia menjadi katalis positif bagi pasar domestik. Hal ini meredakan tekanan inflasi serta risiko pelebaran defisit APBN.
Penguatan pasar juga didukung oleh rupiah yang ditutup menguat 0,94 persen ke posisi Rp17.703 per dolar AS.
Apresiasi rupiah berlanjut setelah kebijakan kenaikan suku bunga acuan BI Rate sebesar 75 bps sejak Mei 2026.
Di sisi lain, harga emas bergerak menguat hingga melewati level US$4.338 per troy ons.
>>> Presiden Jerman Temui Prabowo di Jakarta, Bahas Kerja Sama Strategis
Kenaikan ini terjadi seiring meredanya tekanan inflasi global yang berpotensi memperlemah peluang kenaikan suku bunga The Fed.
