Pemerintah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi dan LPG 3 kilogram. Keputusan ini diambil meskipun harga minyak mentah global terus meningkat.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyampaikan kepastian tersebut dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta pada Senin (15/6/2026).
>>> Pengamat STEI ITB Sebut Dua Penyebab Pemadaman Listrik di Jawa
Bahlil menegaskan bahwa kebijakan ini merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
"Kami melaporkan bahwa di balik dinamika harga minyak global ini terus naik, kami pemerintah tetap bersepakat atas arahan Presiden untuk tidak menaikkan BBM yang bersubsidi.
Saya ulangi lagi, kami tidak menaikkan BBM yang bersubsidi, termasuk LPG," tegas Bahlil.
>>> Ubisoft Tutup Dua Studio dan PHK 380 Karyawan
Harga BBM Nonsubsidi Mengikuti Pasar
Kebijakan berbeda diterapkan untuk jenis BBM nonsubsidi.
Bahlil menjelaskan bahwa penentuan harga BBM nonsubsidi tetap mengacu pada regulasi yang berlaku dan mengikuti mekanisme pasar bebas.
Menurut Bahlil, kelompok BBM nonsubsidi ini ditujukan bagi konsumen dari kalangan masyarakat yang memiliki kemampuan ekonomi lebih tinggi.
"Yang khusus untuk minyak BBM yang untuk saudara-saudara kita yang mampu, memang itu sesuai dengan Permen ESDM tahun 2022, itu diserahkan kepada harga pasar, memang ada terjadi, ya ada kadang-kadang naik, ada kadang-kadang turun," ujarnya.
>>> Akses Siaran Piala Dunia 2026 Resmi Melalui TVRI, Folaplay, dan MAXStream TV
PT Pertamina Patra Niaga sebelumnya telah melakukan penyesuaian harga jual untuk BBM nonsubsidi. Harga Pertamax naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter.
Varian Pertamax Green 95 juga disesuaikan menjadi Rp 17.000 per liter dari harga sebelumnya Rp 12.900 per liter.
Kendati demikian, harga BBM bersubsidi dipastikan tidak berubah.
>>> Umat Islam Dianjurkan Perbanyak Puasa Sunah di Bulan Muharram
Tarif eceran Pertalite bertahan di Rp 10.000 per liter, sedangkan Biosolar tetap dijual seharga Rp 6.800 per liter.