Pemadaman listrik yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Jawa belakangan ini dipicu oleh dua faktor teknis pada infrastruktur pembangkit.
Pakar sistem tenaga listrik STEI ITB, Kevin Marojahan Banjar, mengungkapkan dua fenomena utama yang terjadi di dalam pembangkit listrik.
>>> Akses Siaran Piala Dunia 2026 Resmi Melalui TVRI, Folaplay, dan MAXStream TV
Dua Penyebab Utama
Faktor pertama adalah force outage, yaitu gangguan mendadak yang tidak direncanakan sebelumnya.
Faktor kedua adalah derating, yaitu penurunan kapasitas produksi listrik secara sengaja.
Menipisnya stok batubara atau minyak membuat operator terpaksa menurunkan daya pembangkit hingga 60 persen.
>>> Umat Islam Dianjurkan Perbanyak Puasa Sunah di Bulan Muharram
Jika dipaksa beroperasi 100 persen dan bahan bakar habis, PLTU butuh waktu hingga dua hari untuk menyala kembali.
Sistem tenaga listrik di kawasan tersebut menghadapi tekanan volume cadangan energi yang krusial.
>>> Cairkan Saldo JHT BPJS Ketenagakerjaan Lewat HP Tanpa Paklaring, Begini Caranya
Kondisi ini memicu penerapan kebijakan pemadaman bergilir untuk mengamankan pasokan yang tersisa.
Pemadaman bergilir dilakukan ketika beban konsumsi mencapai titik puncak, agar sistem masih memiliki daya cadangan dan mencegah pemadaman total.
Situasi krisis energi ini berpotensi memburuk akibat ancaman iklim ekstrem, seperti El Nino Godzilla.
>>> Abaikan Hipertensi Selama Bertahun-tahun, Wanita Ini Alami Kerusakan Ginjal Kronis
Fenomena tersebut dapat meningkatkan konsumsi listrik masyarakat karena cuaca panas, serta menurunkan pasokan dari PLTA akibat menyusutnya debit air.