Pergerakan rupiah yang menguat dalam lima hari beruntun ternyata masih belum dianggap cukup aman oleh para ekonom.
Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Juni yang digelar pekan ini.
>>> Pasar Padurenan Baru Bekasi Meredup, Kini Jadi Tempat Pembuangan Sampah
Melansir survei Bloomberg terhadap 30 ekonom atau analis, median estimasi BI Rate berada di 5,75%.
Artinya, suku bunga acuan akan naik 25 basis poin (bps) setelah kenaikan agresif 75 bps dalam sebulan terakhir.
Proyeksi ekonom terkonsentrasi di kisaran 5,5-5,75%, memberi sinyal mayoritas pelaku pasar tidak lagi melihat ruang bagi BI untuk memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Meski pertumbuhan ekonomi terindikasi melambat, pengetatan masih berlanjut.
Dua Ekonom Perkirakan Kenaikan 50 bps
Dua ekonom, Enrico Tanuwijaya dari UOB dan Tamara Henderson dari Bloomberg Economics, memperkirakan BI akan lebih agresif dengan kenaikan 50 bps menjadi 6%.
Henderson memperkirakan BI akan melanjutkan pengetatan hingga suku bunga mencapai 6% pada kuartal I tahun depan.
"Kenaikan lanjutan secepat rapat Juni tetap mungkin terjadi, meski bisa dihindari jika rupiah mulai stabil atau harga minyak melunak," kata Henderson dalam catatannya.
Namun, sebagian ekonom masih memperkirakan BI akan menahan BI Rate di 5,5%. Mereka termasuk Fikri C.
>>> Bank Indonesia Catat Utang Luar Negeri April Naik Jadi Rp7.881 Triliun
Permana dari KB Valbury Sekuritas, Josua Pardede dari Bank Permata, Euben Paracuelles dari Nomura Singapore, Aldian Taloputra dari Standard Chartered Bank, dan Miguel Chanco dari Pantheon Macroeconomics.
Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai skenario BI menahan suku bunga pada RDG berikutnya masih menjadi pilihan utama dengan probabilitas sekitar 80-90%.
Peluang kenaikan lanjutan 25 bps masih terbuka, meski relatif kecil, yakni sekitar 10-20%.
Menurutnya, kenaikan berpotensi terjadi apabila tekanan eksternal kembali meningkat, terutama jika rupiah melemah menembus kisaran Rp18.100-Rp18.200/US$, harga minyak dunia melonjak, imbal hasil Treasury AS naik signifikan, atau terjadi arus keluar dana asing dari pasar SBN dan saham domestik.
Dalam kondisi tersebut, BI kemungkinan akan mempertimbangkan langkah pengetatan tambahan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan ekspektasi inflasi.
Josua menilai BI Rate 5,5% saat ini sudah memadai untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.
Ia mengingatkan bahwa pengetatan kebijakan moneter yang terlalu agresif dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi.
Kenaikan suku bunga akan mendorong biaya dana perbankan lebih tinggi, menghambat penurunan bunga kredit, menekan konsumsi rumah tangga, hingga membuat sektor industri menunda keputusan investasi.
"Dalam kondisi rupiah mulai menguat, BI sebaiknya tidak terburu-buru menaikkan suku bunga lagi hanya untuk mengejar penguatan jangka pendek," kata Josua.
>>> Strava Rilis Fitur Baru Khusus Pendaki untuk Navigasi Lebih Baik
Kondisi Rupiah dan Pasar Keuangan
Berdasarkan data Senin (15/6/2026) per 11:10 WIB, rupiah cenderung stabil dan menguat 1,02% ke posisi Rp17.687/US$.
Penguatan rupiah juga didukung harga minyak mentah yang turun 4,71% ke US$83,22 per barel.
Di pasar Surat Utang Negara (SUN), imbal hasil pada sebagian besar tenor tercatat turun, menandakan akumulasi beli dari investor.
Tenor 1 tahun turun 6,9 bps menjadi 7,15%, tenor 3 tahun turun 30,6 bps ke 7,13%, tenor 5 tahun turun 21,6 bps ke 7,04%.
Tenor acuan turun 2,8 bps menjadi 7,41%, dan tenor 11 tahun turun 12,3 bps jadi 7,4%.
Masuknya arus modal asing sejalan dengan optimisme potensi kesepakatan AS-Iran yang membuat harga minyak kembali jinak.
Penurunan harga minyak meningkatkan selera risiko di pasar keuangan Asia.
Mata uang Asia hari ini kompak menguat, dengan peso Filipina memimpin (1,22%), disusul rupiah (1,03%), rupee India (0,53%), dolar Taiwan (0,35%), won Korea Selatan (0,32%), ringgit Malaysia (0,29%), baht Thailand (0,27%), dan dolar Singapura (0,18%).
>>> IHSG Pekan Ini Diprediksi Fluktuatif, Uji Level MA20
Yen Jepang dan yuan offshore menguat terbatas masing-masing 0,09%.