Bank Sentral Jepang (BOJ) diproyeksikan akan menaikkan suku bunga acuan ke level tertinggi dalam 31 tahun pada pekan depan.
Langkah ini diambil untuk menekan lonjakan harga dan menjaga stabilitas domestik di tengah ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
>>> Kritik Tahunan: Festival Jazz di Indonesia Dinilai Semakin Kehilangan Jati Diri
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Reuters, BOJ diperkirakan akan menaikkan suku bunga dari 0,75% menjadi 1%.
Jika terealisasi, ini menjadi kenaikan pertama sejak Desember 2025 dan level tertinggi sejak tahun 1995.
Kebijakan Moneter Ketat
Keputusan ini tetap berjalan meskipun Gubernur BOJ Kazuo Ueda dipastikan absen dalam rapat kebijakan moneter pada 15-16 Juni 2026.
>>> Harga Emas Antam 13 Juni 2026 Turun Rp 32.000 Per Gram dalam Sepekan
Ueda harus menjalani perawatan medis akibat penyakit kista hati selama dua minggu.
Otoritas moneter menilai intervensi suku bunga sangat mendesak untuk memitigasi risiko pembengkakan biaya energi, lonjakan harga barang impor akibat pelemahan yen, serta kondisi pasar tenaga kerja yang semakin ketat.
>>> BGN Bantah Hoaks Aliran Dana Program MBG ke Presiden Prabowo
Ekonom Senior di Mizuho Research Institute, Saisuke Sakai, mengatakan bahwa ketidakhadiran Ueda tidak akan memengaruhi keputusan institusional BOJ.
Fokus bank sentral tetap pada meningkatnya risiko inflasi daripada risiko pertumbuhan akibat konflik Timur Tengah.
Jajak pendapat Reuters menunjukkan sejumlah ekonom memprediksi tren kenaikan ini akan berlanjut.
>>> Danantara: Penguatan IHSG Bukti Kepercayaan Investor pada Fundamental Ekonomi
BOJ diperkirakan kembali menaikkan suku bunga menjadi 1,25% pada kuartal IV-2026 setelah mencapai target 1% pada Juni 2026.