⌂ Beranda News Kritik Tahunan: Festival Jazz di Indonesia Dinilai Semakin Kehilangan Jati Diri

Kritik Tahunan: Festival Jazz di Indonesia Dinilai Semakin Kehilangan Jati Diri

Kritik Tahunan: Festival Jazz di Indonesia Dinilai Semakin Kehilangan Jati Diri
Panggung festival jazz dengan musisi tampil
A A Ukuran Teks16px

Perdebatan mengenai fenomena festival jazz yang tak lagi nge-jazz kembali mencuat di kalangan penikmat musik Tanah Air.

Hampir setiap kali promotor mengumumkan daftar penampil, kritik serupa selalu menjadi perbincangan hangat di media sosial.

>>> QJMOTOR Tawarkan Promo Liburan ke China di Jakarta Fair 2026

Sejumlah festival besar seperti Java Jazz Festival, Prambanan Jazz, hingga Jazz Gunung berhasil menarik ribuan penonton setiap tahunnya.

Namun, muncul pertanyaan apakah festival-festival tersebut masih benar-benar merepresentasikan musik jazz.

Banyak penonton menyoroti minimnya musisi jazz murni sebagai penampil utama. Panggung utama justru lebih sering diisi oleh musisi pop, R&B, hingga band rock dengan sentuhan jazz.

Bagi pelaku dan penikmat musik jazz, praktik ini dinilai semakin menjauhkan festival dari akar dan identitas musik jazz.

Kritik dari Musisi Senior

Musisi jazz senior Indra Lesmana sebelumnya juga menyampaikan kegelisahan serupa.

Melalui unggahan di Instagram pada 9 Juli 2025, ia mengkritik arah perkembangan festival jazz yang dinilainya mulai kehilangan ruh.

“Semakin sedikit musisi jazz tampil di festival jazz. Tanpa jazz, festival jazz kehilangan jiwanya,” tulis Indra.

>>> Transmart Full Day Sale Diskon Alat Kebersihan hingga 50 Persen

Ia menegaskan bahwa festival jazz seharusnya menjadi ruang bagi seniman jazz untuk berkembang, bukan sekadar mengejar angka penjualan tiket.

Pandangan ini diamini oleh personel SIMAKDIALOG.

Saat menghadiri showcase GONG di Ruang Tamu Tony, Jakarta Selatan, Jumat, 12 Juni 2026, mereka berbincang mengenai fenomena tersebut.

Distorsi Makna Jazz

Pianis Sri Hanuraga menilai persoalan ini bukan sekadar genre, melainkan menyangkut sejarah dan identitas musik jazz. “Praktik tersebut justru menghancurkan musik jazz, mendistorsi musik jazz sendiri,” ujarnya.

Jason Mountario mengaku heran ketika keputusan kurasi festival dibuat oleh pihak yang tidak memahami jazz secara mendalam.

“Kadang yang nyebelin itu dia nggak ngerti jazz tapi nggak mau masukin jazz-nya,” ungkapnya.

Cucu Kurnia mempertanyakan mengapa penyelenggara tetap mempertahankan label jazz apabila konten festival sudah jauh dari genre tersebut.

>>> Kandungan Gula Tinggi pada Probiotik Picu Risiko Diabetes

“Kalau saya mungkin lebih melihat kenapa gitu nggak berani keluar dari kata jazz itu sih sebenarnya,” tuturnya.

Dinar Rizkianti menambahkan, festival jazz seharusnya tetap memberikan ruang utama bagi musisi jazz. “Kalau mau festival jazz ya hadirkanlah musisi jazz yang sebenarnya,” katanya.

Jason menekankan persoalan utama terletak pada penempatan peran yang terbalik. “Gue selalu mempertanyakan kenapa di main stage justru bukan the rockstar of jazz-nya yang tampil,” tegasnya.

Kurator Harus Merawat Ekosistem

Sri Hanuraga menyoroti pentingnya peran kurator dalam membangun ekosistem jazz berkelanjutan. “Pekerjaan kurator harus kembali ke hakikatnya, 'to curate' untuk merawat sesuatu,” ujarnya.

Menurutnya, regenerasi musisi jazz Indonesia sebenarnya berlangsung sangat baik. Banyak musisi muda dengan kemampuan baru bermunculan, namun kesulitan mendapatkan ruang yang memadai.

“Masalahnya, mereka tidak punya ruang untuk membangun identitas dan audiensnya sendiri. Akhirnya banyak yang menjadi session player di industri musik pop agar bisa bertahan hidup,” katanya.

Kondisi ini menciptakan lingkaran tidak sehat. Festival terus menghadirkan nama yang sama karena dianggap memiliki nilai jual, sementara talenta baru kesulitan membangun eksistensi.

>>> Onic Hadapi Bigetron di Grand Final MPL ID S17, Perebutkan Rp 5 Miliar

Jason berharap promotor berani mengambil risiko memberi ruang lebih besar kepada musisi jazz berkualitas. “Menurut gue ya kalau mau gambling sekalian all out aja,” tutupnya.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru