Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mencatat lonjakan harga 12,14 persen ke level Rp157 per saham pada perdagangan Jumat, 12 Juni 2026.
Nilai transaksi mencapai Rp1,03 triliun.
>>> David Beckham Resmi Terima Bintang Hollywood Walk of Fame
Kenaikan ini terjadi di tengah tren penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ambrol 4,52 persen ke level 5.342,13 pada awal pekan.
Berdasarkan data RTI Infokom, investor asing membukukan aksi beli bersih sebesar Rp40,71 miliar sepanjang 8 hingga 12 Juni 2026.
Angka ini melanjutkan tren positif dari pekan sebelumnya yang mencatat net buy Rp266,64 miliar.
Kondisi ini membalikkan situasi pada periode 25–29 Mei 2026 saat saham BUMI mencatat aksi jual bersih asing sebesar Rp219,64 miliar.
Meski demikian, jumlah pemegang saham per akhir Mei 2026 justru bertambah 11.298 pihak menjadi 590.547 investor.
Penerima manfaat akhir Bumi Resources saat ini tercatat berada di tangan Nirwan Dermawan Bakrie dan Anthony Salim.
>>> Asus NUC 15 Resmi Gunakan Intel Arrow Lake dan AI SuperBuild
Proyek Non-Batu Bara Mulai Dilirik Pasar
Emiten tambang Grup Bakrie dan Salim ini tengah menyiapkan proyek strategis non-batu bara untuk bertransformasi menjadi perusahaan tambang multi-platform.
Salah satunya adalah proyek Wolfram Limited di Queensland, Australia, yang telah mengamankan kontrak penjualan jangka panjang tujuh tahun dengan Glencore.
Analis Panin Sekuritas Cliff Nathaniel menilai pasar mulai memberikan perhatian lebih pada aset non-batu bara perseroan karena beberapa proyek sudah memasuki tahap matang.
"Ini penting karena BUMI tidak hanya masuk aset non-coal, tetapi sudah memiliki jalur pemasaran jelas untuk output produksinya," ujarnya.
Selain Wolfram, perseroan memiliki eksposur pada Jubilee Metals Limited yang ditargetkan berproduksi pada kuartal IV 2026.
>>> Pahami Etika Berbagi Makan Satu Piring Demi Kenyamanan Bersama
BUMI juga tengah menyelesaikan akuisisi 45 persen saham PT Laman Mining yang ditargetkan rampung pada Agustus 2026.
"Bisnis batu baranya masih kuat, efisiensi operasional membaik, sementara aset non-coal mulai masuk fase konkret.
Jika Wolfram, JML, dan Laman Mining mulai berkontribusi signifikan, target EBITDA 50:50 bisa saja tercapai lebih cepat," jelas Cliff.
Kinerja operasional pengangkutan batu bara BUMI juga membaik dengan produksi mencapai 19,2 juta ton. Depresiasi rupiah turut memberikan keuntungan alami bagi emiten dengan pendapatan berbasis dolar AS.
"Untuk emiten dengan earnings USD, pelemahan rupiah bisa menjadi natural hedge ketika ada kewajiban rupiah.
Kalau arus kas USD BUMI tetap kuat, kemampuan perseroan memenuhi kewajiban rupiah berpotensi lebih terjaga," kata Cliff.
>>> Anthropic Blokir Akses Model AI Fable 5 dan Mythos 5 demi Patuhi Arahan AS
Sementara itu, anak usaha perseroan, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), terus menggenjot kapasitas produksi melalui pengembangan proyek baru di kawasan tambang PT Citra Palu Mineral, menurut pengamatan Analis Ajaib Sekuritas Asia Rizal Rafly.
