Pemerintah memitigasi potensi migrasi konsumen dari Pertamax ke BBM bersubsidi jenis Pertalite setelah PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga bahan bakar minyak nonsubsidi per Rabu, 10 Juni 2026.
Kenaikan harga ini membuat Pertamax melonjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara itu, Pertamax Green 95 naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
>>> Hyundai Siapkan Solusi Mobilitas Terbesar dan Jadi Mitra Robotika Resmi FIFA World Cup 2026
Penjelasan Pemerintah
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi dipengaruhi secara langsung oleh pergerakan harga minyak mentah di pasar global.
"Pertamax adalah BBM nonsubsidi, artinya harga Pertamax harus mengikuti harga minyak dunia," kata Teddy.
Ia menambahkan bahwa lonjakan harga komoditas ini sebenarnya sudah berlangsung sejak beberapa bulan sebelumnya. Namun, pemerintah sempat menahan penyesuaian tarif tersebut.
"Harga minyak dunia naik drastis sejak Maret, tetapi pemerintah sudah menahan kenaikan selama berbulan-bulan," ujar Teddy.
Meskipun terjadi kenaikan di dalam negeri, ia mengklaim nilai jual BBM nonsubsidi di Indonesia masih tergolong kompetitif dibandingkan dengan negara-negara tetangga.
"Walaupun naik, harga Pertamax di Indonesia jauh lebih murah dibanding BBM RON 92/95 di negara lain," ujarnya.
Teddy juga menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk tidak mengubah tarif BBM yang mendapatkan subsidi dari negara.
"Pertalite dan solar, harga BBM subsidi tidak naik. Pertalite Rp10.000 dan Solar Rp6.800," lanjut Teddy.
>>> Katie Austin Tiru Gaya Legendaris Sang Ibu dalam Foto Kehamilan
Direktur Utama PT Pertamina Simon Aloysius Mantiri turut memaparkan bahwa keputusan korporasi ini diambil dengan mempertimbangkan konjungtur politik global serta stabilitas ekonomi masyarakat.
"Kami memahami bahwa setiap penyesuaian harga tentu menjadi perhatian masyarakat.
Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar internasional dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat," jelas Simon.
Simon juga menyatakan bahwa kebijakan koreksi harga ini tidak hanya diterapkan oleh badan usaha milik negara.
Kebijakan ini juga diadopsi oleh seluruh operator stasiun pengisian bahan bakar umum swasta.
"Penyesuaian harga BBM nonsubsidi ini selain dilakukan di titik-titik SPBU Pertamina, juga dilakukan oleh SPBU badan usaha swasta," tutur Simon.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan peralihan konsumsi ke BBM bersubsidi akibat lonjakan harga ini tidak akan terjadi secara menyeluruh.
Hal ini karena faktor kesesuaian spesifikasi kendaraan konsumen.
>>> 10 Saham Paling Berpengaruh Terhadap Pergerakan IHSG Sepekan
"Kita enggak hitung (yang beralih ke Pertalite), tapi begini, pasti ada berapa persen yang pindah. Cuma kan harusnya enggak semuanya pindah.
Kenapa? Karena kan yang beli Pertamax tahu mobilnya cocok untuk Pertamax," kata Purbaya.
Terkait perhitungan matematis mengenai dampak riil dari pergeseran volume konsumsi tersebut terhadap postur anggaran, Purbaya mengarahkan hal itu kepada kementerian teknis.
"Kita belum hitung. Mungkin ditanya Pak Bahlil yang mengerti itu," ujarnya.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyatakan bahwa pihak eksekutif telah memetakan risiko pergeseran pola konsumsi ini. Pemerintah juga berkoordinasi dengan pihak operator.
"Itu juga fakta yang tidak bisa dipungkiri bahwa akan ada kemungkinan besar pergeseran. Tadi kami sudah berdiskusi dengan Biro Pertamina Patra Niaga," kata Dwi Anggia.
Anggia menjelaskan bahwa untuk menekan potensi penyalahgunaan, sistem pengawasan digital di lapangan akan semakin diperketat. Hal ini demi memastikan BBM bersubsidi terdistribusi secara akurat.
"Misalnya, saat ini untuk akses BBM subsidi kan menggunakan QR ya, walaupun mungkin banyak juga oknum-oknum yang mengakali ini.
>>> Timnas Indonesia U-19 Hadapi Kamboja di Perebutan Tempat Ketiga Piala AFF
Namun pemerintah, Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia) sudah meminta Pertamina dan pihak terkait untuk meningkatkan pengawasan di bawah," ujar Dwi Anggia.
