⌂ Beranda News Operasi Caesar Tingkatkan Risiko Masalah Kejiwaan Pasca Melahirkan

Operasi Caesar Tingkatkan Risiko Masalah Kejiwaan Pasca Melahirkan

Operasi Caesar Tingkatkan Risiko Masalah Kejiwaan Pasca Melahirkan
Ilustrasi operasi caesar dan risiko masalah kejiwaan pasca melahirkan
A A Ukuran Teks16px

Sebuah riset terbaru mengaitkan metode persalinan caesar dengan potensi gangguan kesehatan mental pada perempuan pasca melahirkan. Dampak ini ditemukan baik pada operasi yang dijadwalkan maupun yang bersifat darurat.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Obstetrics & Gynecology menyatakan bahwa operasi caesar berhubungan dengan kenaikan risiko kondisi kejiwaan postpartum hingga lebih dari 15 persen.

>>> Pemprov Bengkulu Susun RPPEM 2026-2055 untuk Lindungi Pesisir

Data ini diperoleh melalui perbandingan dengan persalinan pervaginam spontan.

Sementara itu, persalinan pervaginam operatif (OVD) yang dibantu alat medis tidak menunjukkan kenaikan risiko serupa jika berhasil.

Namun, risiko langsung melonjak 26 persen lebih tinggi pada kasus operasi caesar yang terpaksa ditempuh setelah OVD gagal.

Metode Penelitian

Para ilmuwan menjalankan studi kohort observasional dengan memantau 934.524 perempuan yang melahirkan bayi tunggal hidup di Amerika Serikat.

Pemantauan dilakukan dalam rentang tahun 2008 sampai 2022 menggunakan basis data komersial Merative MarketScan.

Subjek penelitian dikelompokkan ke dalam lima kategori metode persalinan.

Kategori tersebut meliputi persalinan pervaginam spontan, persalinan pervaginam dengan bantuan alat yang sukses, serta operasi caesar yang direncanakan.

>>> Putri Kerajaan Thailand Bajrakitiyabha Meninggal Setelah Koma Hampir Empat Tahun

Kelompok selanjutnya adalah operasi caesar tidak terencana tanpa didahului percobaan persalinan normal. Kelompok terakhir merupakan operasi caesar tidak terencana setelah upaya persalinan normal dinyatakan gagal.

Kondisi kejiwaan yang dipantau mencakup diagnosis baru terkait depresi, kecemasan, gangguan stres pasca trauma (PTSD), serta gangguan mental berat lainnya.

Penggunaan resep obat antidepresan baru dalam enam bulan setelah melahirkan juga turut didata.

Tim peneliti memperkirakan korelasi antara metode melahirkan dan gangguan kejiwaan dengan menyesuaikan faktor klinis ibu.

Faktor tersebut meliputi usia, wilayah tinggal, tahun melahirkan, obesitas kelas III, hipertensi kronis, diabetes melitus, hingga komplikasi berat pada bayi.

Temuan Utama

Angka kejadian gangguan kejiwaan pasca melahirkan mencapai 11,4 persen pada ibu yang menjalani operasi caesar terencana.

>>> Brawijaya Hospital Luncurkan Empat Center of Excellence untuk Layanan Medis Unggulan

Persalinan caesar tidak terencana tanpa upaya pervaginam mencatatkan angka 10,8 persen.

Bagi kelompok ibu yang menjalani operasi caesar darurat setelah kegagalan induksi atau persalinan normal, angka kejadiannya 10,9 persen.

Seluruh diagnosis psikiatri spesifik lebih tinggi pada kelompok operasi caesar dibanding persalinan normal.

Mayoritas indikasi depresi, kecemasan, dan gangguan jiwa berat lainnya terdeteksi dalam 0 hingga 90 hari setelah persalinan.

Gejala stres pasca trauma muncul dengan pola frekuensi serupa pada periode 0-90 hari maupun 91-180 hari.

"Kondisi kejiwaan pasca persalinan meningkat setelah persalinan caesar, baik yang direncanakan maupun tidak, tetapi tidak setelah persalinan pervaginam yang berhasil," kata tim penulis.

"Hasil penelitian menunjukkan bahwa persalinan caesar mungkin terkait dengan peningkatan risiko kondisi kejiwaan dan memerlukan pengawasan lebih ketat pasca melahirkan."

>>> OpenAI Pertimbangkan Pangkas Harga ChatGPT Demi Hadapi Anthropic

Riset ini memiliki keterbatasan karena mengecualikan subjek perempuan yang sudah memiliki riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya. Oleh karena itu, kesimpulan belum tentu dapat digeneralisasikan secara universal untuk kelompok tersebut.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru