Persaingan di industri kecerdasan buatan (AI) generatif semakin memanas. OpenAI kini tengah mengkaji rencana pemotongan harga layanannya secara signifikan, seperti dilansir dari Bloomberg.
Langkah strategis ini diambil untuk mengantisipasi pengurangan biaya serupa dari kompetitor utamanya, Anthropic PBC.
>>> IHSG Tembus 6.000, Kepala Badan Pengaturan BUMN Ajak Jaga Optimisme
Keputusan ini juga memberikan sinyal kuat mengenai potensi terjadinya perang harga sebelum kedua perusahaan melakukan penawaran umum perdana (IPO).
Menurut sumber yang mengetahui rencana tersebut, pencipta ChatGPT ini tengah mempertimbangkan penyesuaian tarif, termasuk menurunkan harga token yang menjadi satuan pengukur penggunaan AI.
Opsi penurunan ini akan dieksekusi apabila Anthropic mengambil langkah serupa.
Meski demikian, pembahasan internal tersebut dikabarkan masih berada dalam tahap awal.
Sumber-sumber anonim menyebutkan bahwa belum ada keputusan final yang diambil oleh pihak manajemen terkait kebijakan harga baru ini.
Hingga saat ini, pihak OpenAI menolak memberikan komentar resmi terkait rumor pemotongan tarif tersebut.
>>> Jelang Demo BEM UI, Puluhan PKL Padati Bundaran HI Cari Rezeki
Sementara itu, The Wall Street Journal menjadi media pertama yang mengabarkan laporan perihal rencana penurunan harga ini.
Perebutan pengguna antara OpenAI dan Anthropic yang mengembangkan chatbot Claude terus meningkat.
Momentum ini dimanfaatkan oleh kedua perusahaan yang sedang bersiap melantai di bursa saham guna menangkap antusiasme pasar terhadap teknologi kecerdasan buatan.
OpenAI sendiri telah mengajukan permohonan pencatatan saham publik pada pekan ini. Dalam putaran pendanaan terakhir pada Maret, perusahaan mencatatkan nilai valuasi sebesar US$852 miliar.
Di sisi lain, Anthropic telah menunjuk sejumlah bank untuk memimpin proses penawaran umum perdana mereka.
Pada bulan lalu, kompetitor ChatGPT ini berhasil menggalang dana dengan valuasi korporasi mencapai US$965 miliar.
Kompetisi Global dan Tantangan Biaya Operasional
Peta persaingan teknologi ini semakin padat dengan rencana penawaran umum perdana dari SpaceX milik Elon Musk pada pekan ini.
>>> Diskon 20% Langganan Transvision Pakai Allo Paylater
Perusahaan yang menaungi xAI, bisnis satelit, serta jejaring sosial X tersebut diperkirakan akan mencatatkan valuasi sekitar US$1,8 triliun.
Selain persaingan antarkorporasi baru, startup AI generatif ini harus berhadapan dengan raksasa teknologi yang sudah mapan. Microsoft Corp.
dan Google milik Alphabet Inc. terus memperkuat posisi mereka di pasar yang sama.
Namun, lonjakan antusiasme terhadap teknologi AI yang mendorong tingginya valuasi kini mulai terbentur oleh masalah efisiensi biaya.
Sejumlah perusahaan besar mulai membatasi penggunaan teknologi ini karena anggaran yang membengkak.
Uber Technologies Inc., misalnya, terpaksa menetapkan batasan pemakaian pada beberapa perangkat berbasis AI untuk staf mereka akibat anggaran tahunan AI yang habis lebih cepat.
>>> World Bank Sarankan Tiga Fokus Kebijakan untuk Perkuat Ekonomi Indonesia
Kebijakan serupa juga diterapkan oleh Walmart Inc. yang membatasi akses karyawannya terhadap agen AI internal perusahaan.
