Trader komoditas Trafigura Group dan Vitol Group tengah memperluas jangkauan penjualan minyak asal Venezuela ke pasar Asia.
Langkah ini diambil seiring dengan lonjakan produksi minyak di negara Amerika Selatan tersebut.
>>> Spacex Raup Rp1.222 Triliun Lewat IPO Terbesar Sepanjang Sejarah
Selain itu, ketegangan akibat perang Iran yang mengganggu jalur pasokan dari Timur Tengah turut mendorong pengalihan fokus ini.
Informasi tersebut dilansir dari Bloombergtechnoz pada Jumat (12/6/2026).
Penawaran ke Korea Selatan dan Malaysia
Trafigura dilaporkan telah menawarkan Merey 16, minyak mentah andalan Venezuela, kepada sejumlah perusahaan kilang di Korea Selatan.
Informasi mengenai transaksi rahasia ini diungkapkan oleh sumber yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Perusahaan tersebut juga baru-baru ini mengirimkan pasokan minyak menuju sebuah fasilitas kilang di Malaysia.
Para trader sempat menawarkan minyak ke India dengan potongan harga sekitar US$6 per barel terhadap patokan Dated Brent.
Para trader kini berupaya mendiversifikasi penjualan setelah sebelumnya membanjiri pasar Amerika Serikat. Upaya ini dilakukan saat produksi minyak Venezuela melonjak ke level tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.
Angka produksi tersebut kini mendekati tingkat sebelum Washington memberlakukan sanksi luas terhadap industri minyak Venezuela pada tahun 2019.
Peningkatan penawaran ke Asia terjadi ketika konflik Iran membatasi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz.
>>> Investor Asing Borong Saham BBCA dan DSSA di Sesi I, Net Buy Rp 492,4 Miliar
Setelah lengsernya Nicolas Maduro pada awal Januari, para trader langsung meningkatkan penjualan ke India.
Negara di Asia Selatan tersebut kini menyerap volume minyak Venezuela yang hampir setara dengan jumlah yang pernah dibeli oleh China.
Kendati demikian, pertumbuhan produksi minyak mentah Venezuela tetap membutuhkan ceruk pasar dan pembeli baru.
China selaku konsumen terbesar di Asia terpantau belum melakukan pembelian lagi sejak pemerintahan Trump mengambil alih kendali penjualan dahulu.
Trafigura menawarkan sekitar 500.000 barel Merey 16 kepada korporasi bahan bakar di Korea Selatan.
Berdasarkan data perusahaan intelijen maritim Kpler Ltd, minyak tersebut akhirnya dibongkar di fasilitas penyimpanan Korea Selatan pada awal Juni.
Catatan bea cukai negara tersebut menunjukkan bahwa Korea Selatan terakhir kali membeli minyak dari Venezuela pada tahun 2011.
Mengenai perkembangan aktivitas perdagangan ini, pihak Trafigura menolak untuk memberikan komentar.
>>> Kemensos Sediakan Tiga Cara Cek Bansos BPNT 2026 Lewat HP
Kapal supertanker Nissos Kea yang disewa oleh Trafigura tercatat mengantarkan minyak ke Korea Selatan dan pelabuhan Malaysia.
Pelabuhan di Malaysia tersebut melayani kilang Melaka milik Petroliam Nasional Bhd atau Petronas.
Fasilitas kilang milik Petronas tersebut merupakan produsen utama aspal yang membutuhkan jenis minyak berat Venezuela sebagai bahan baku utamanya.
Di sisi lain, Vitol juga menyewa supertanker lain bernama Solana.
Kapal Solana baru saja membongkar 2 juta barel Merey 16 ke fasilitas penyimpanan terapung di lepas pantai Malaysia.
Tempat penyimpanan semacam itu umumnya berfungsi sebagai pusat distribusi logistik.
Melalui fasilitas terapung tersebut, kargo berukuran besar akan dipecah menjadi pengiriman yang lebih kecil sebelum dijual ke konsumen akhir.
Terkait aktivitas ini, pihak Vitol belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Ekspansi penjualan ke pasar Asia ini berjalan di tengah tren penurunan harga minyak fisik dari level tertinggi saat awal konflik Timur Tengah.
>>> Kenaikan Harga Pertamax: Langkah Sulit yang Tak Terhindarkan
Penurunan harga dipicu oleh kuatnya ekspor AS, pelepasan cadangan darurat, dan perlambatan permintaan China.