Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (BAKTI) Komdigi mengungkapkan bahwa biaya operasional Base Transceiver Station (BTS) di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) membengkak tinggi.
Hal ini disebabkan oleh ketergantungan pada jaringan satelit.
>>> ECB Buka Peluang Naikkan Suku Bunga Acuan pada Juli 2026
Ketiadaan infrastruktur dasar seperti kabel serat optik di lokasi terpencil memaksa penggunaan stasiun penerima dan pemancar sinyal satelit atau Very Small Aperture Terminal (VSAT).
Akibatnya, biaya pemeliharaan menjadi jauh lebih mahal dibandingkan di perkotaan.
Biaya Operasional BTS 3T Dua Kali Lipat
Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur BAKTI Komdigi, Darien Aldiano, menyampaikan bahwa biaya dukungan operasional satu BTS di daerah 3T bisa mencapai Rp30 juta per bulan.
Sementara itu, BTS milik operator seluler di kota hanya membutuhkan biaya sekitar Rp15-20 juta per bulan.
"Cost untuk support BTS itu bisa sampai 30-an juta satu site, 30 juta per bulan.
>>> Bank Mandiri Jadi Bank RI Pertama yang Terhubung Langsung ke Sistem CIPS China
Namun, kalau di kota BTS-BTS yang milik operator seluler itu ya, cost-nya mereka mungkin hanya 15-20 juta," kata Darien Aldiano di Pulau Maratua pada Kamis (11/6/2026).
Perbedaan biaya ini terjadi karena operator di perkotaan dapat memanfaatkan jaringan serat optik yang efisien.
Di wilayah 3T, tidak ada optik dan microwave, sehingga harus menggunakan VSAT yang biayanya tinggi.
Keterbatasan Bandwidth dan Jumlah Pengguna
Selain biaya mahal, penggunaan VSAT juga membatasi kapasitas data. Rata-rata kapasitas BTS yang menggunakan VSAT maksimal 12 Mbps.
Dengan bandwidth tersebut, jika digunakan oleh banyak pengguna secara bersamaan, koneksi internet menjadi sangat lambat.
>>> Snowflake Resmi Luncurkan CoWork, Sistem Operasi Agen AI untuk Perusahaan
"Bagaimana caranya BTS VSAT dengan pengguna let say 100 berbarengan, terus semuanya misalnya ya, buka TikTok dan lain-lain, pasti lemot," jelas Darien.
Jumlah pengguna di wilayah 3T juga sangat minim. Satu desa mungkin hanya memiliki 200-400 pengguna, dan mereka cenderung menggunakan paket data hemat.
Hal ini membuat skala ekonomi tidak menguntungkan.
Darien menambahkan bahwa secara bisnis, proyek telekomunikasi di wilayah terpencil belum masuk ke tataran komersial.
Oleh karena itu, negara melalui BAKTI hadir untuk memberikan layanan kepada masyarakat di daerah 3T.
>>> Aktor Muzakki Ramdhan Alami Penganiayaan di Toilet Mal Jakarta
Pembangunan infrastruktur ini bertujuan untuk mewujudkan pemerataan akses digital nasional. Diharapkan langkah ini dapat mengikis kesenjangan konektivitas antara perkotaan dan wilayah rural di Indonesia.