Bank Sentral Eropa (ECB) membuka kemungkinan menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Juli 2026. Langkah ini dipicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi akibat dampak perang di Iran.
Opsi percepatan pengetatan moneter ini muncul meski ekonom dan pelaku pasar memperkirakan ECB baru akan bertindak pada September.
>>> Kemendikdasmen Mulai Salurkan Dana BOSP SMA Tahap 2 Juli 2026
Namun, jika situasi geopolitik dan ekonomi di zona euro membaik, opsi menahan suku bunga pada Juli tetap terbuka.
Tekanan inflasi yang awalnya dipicu lonjakan harga energi kini meluas ke seluruh sektor ekonomi di 21 negara anggota zona euro.
ECB sebelumnya baru menaikkan biaya pinjaman untuk pertama kalinya sejak 2023 pada Kamis (11/6).
>>> Korea Selatan vs Republik Ceko: Babak Pertama Imbang 0-0 di Piala Dunia 2026
Gubernur ECB Christine Lagarde mengatakan perang di Timur Tengah membebani aktivitas ekonomi. Berbagai survei menunjukkan perlambatan, terutama di sektor jasa.
Lagarde menambahkan kondisi eksternal saat ini berdampak langsung pada proyeksi ekonomi jangka panjang.
Proyeksi terbaru ECB menunjukkan harga konsumen akan meningkat lebih cepat dalam dua tahun ke depan, sementara pertumbuhan ekonomi tertekan akibat melemahnya permintaan.
"Kenaikan harga energi akan mendorong inflasi lebih tinggi sepanjang musim panas dan membuatnya tetap jauh di atas target hingga paruh pertama 2027," kata Lagarde.
>>> Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Langkah yang Tak Terhindarkan
Investor memproyeksikan ECB akan melakukan dua kali kenaikan lagi pada suku bunga deposito yang saat ini di level 2,25 persen.
Kebijakan ini kontras dengan bank sentral Inggris dan Amerika Utara yang masih menahan suku bunga.
"Kenaikan suku bunga kedua setelah keputusan hari ini, baik pada Juli maupun September, kini menjadi semakin mungkin terjadi," kata Kepala Riset Makro Global ING, Carsten Brzeski.
>>> 30 Nama Anak dan Artis Indonesia Berawalan Huruf M Beserta Artinya
ECB belum memberikan pernyataan resmi mengenai spekulasi percepatan kenaikan suku bunga ini. Juru bicara bank sentral menolak berkomentar terkait dinamika internal yang berkembang.