⌂ Beranda News Rupiah Melemah ke Rp17.953 per Dolar AS pada 11 Juni 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.953 per Dolar AS pada 11 Juni 2026

Rupiah Melemah ke Rp17.953 per Dolar AS pada 11 Juni 2026
Grafik kurs rupiah terhadap dolar AS pada 5 Juni 2026
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan penurunan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada sesi pembukaan perdagangan, Kamis (11/6/2026).

Berdasarkan data pasar Investing yang dipantau sekitar pukul 09.09 WIB, mata uang Garuda berada di posisi Rp17.953,9 per dolar AS.

>>> BRIN Teliti Ketidakpastian Sumber Gempa di Pulau Jawa

Angka tersebut mencerminkan pelemahan sebesar 0,63 persen.

Penurunan ini terjadi ketika indeks dolar AS (DXY) justru bergerak relatif stabil pada posisi 99,925, setelah mengalami penurunan tipis sebesar 0,01 persen.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tetap kuat pada awal perdagangan.

Di sisi lain, komoditas emas dunia justru melanjutkan tren penguatan yang signifikan.

>>> Rupiah Fluktuatif di Tengah Gejolak Geopolitik dan Kebijakan BI

Kontrak emas spot (XAU/USD) terpantau melonjak 22,60 poin atau 0,56 persen menuju level USD4.094,06 per troy ounce.

Kenaikan ini menandakan bahwa minat para investor terhadap aset aman atau safe haven masih tinggi karena ketidakpastian pasar global.

Pelemahan Terhadap Mata Uang Regional

Selain terhadap dolar AS, rupiah juga terpantau melemah terhadap sejumlah mata uang regional.

Dolar Singapura diperdagangkan pada angka Rp13.947,33, sedangkan mata uang euro berada di kisaran Rp20.643 per euro.

Mata uang yuan Tiongkok juga menguat ke level Rp2.649,11, diikuti oleh yen Jepang yang bertengger di posisi Rp111,85 per yen.

>>> Penyebab GoPay Pinjam Ditolak dan Solusi Tepat Agar Disetujui

Pergerakan negatif rupiah juga terlihat dari mata uang Asia Tenggara lainnya.

Baht Thailand kini diperdagangkan pada level Rp545,65, sementara ringgit Malaysia menguat terhadap rupiah di kisaran Rp4.409,32 per ringgit.

Dominasi dolar AS yang bertahan di level tinggi ini berpotensi terus menekan posisi rupiah dalam jangka pendek.

Para pelaku pasar saat ini sedang mencermati rilis sejumlah data ekonomi global terbaru.

>>> BNI Jaga Fungsi Intermediasi Selektif Usai Suku Bunga BI Naik

Langkah dan arah kebijakan dari berbagai bank sentral utama dunia juga dinantikan karena akan menjadi sentimen penggerak bagi mata uang serta komoditas ke depan.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru