⌂ Beranda News Rupiah Fluktuatif di Tengah Gejolak Geopolitik dan Kebijakan BI

Rupiah Fluktuatif di Tengah Gejolak Geopolitik dan Kebijakan BI

Rupiah Fluktuatif di Tengah Gejolak Geopolitik dan Kebijakan BI
Grafik pertumbuhan uang primer Bank Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bergerak fluktuatif pada perdagangan Kamis (11/6/2026).

Mata uang Indonesia sempat menguat hingga mencapai level Rp17.948 per dolar AS sebelum kembali melemah.

>>> Penyebab GoPay Pinjam Ditolak dan Solusi Tepat Agar Disetujui

Dilansir dari Bloombergtechnoz, apresiasi rupiah pada sesi pembukaan melanjutkan tren positif selama dua hari berturut-turut.

Namun, pergerakan kemudian berbalik melemah sebesar 0,09 persen ke level Rp17.970 per dolar AS akibat tekanan sentimen global.

Sentimen Positif dari Kebijakan Moneter dan Fiskal

Penguatan yang sempat terjadi didorong oleh keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,5 persen.

Kebijakan moneter mendadak ini diambil untuk menstabilkan pasar keuangan domestik.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengadakan pertemuan intensif dengan investor dari AS, Eropa, dan Asia. Langkah ini dilakukan untuk menjelaskan latar belakang penyesuaian suku bunga kepada pelaku pasar internasional.

>>> BNI Jaga Fungsi Intermediasi Selektif Usai Suku Bunga BI Naik

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga memberikan kepastian kepada DPR mengenai pengelolaan fiskal. Pemerintah berkomitmen menjaga batas defisit anggaran agar tidak melampaui ketentuan hukum.

Sentimen positif juga datang dari penyesuaian harga BBM non-subsidi Pertamax menjadi Rp16.250 per liter.

Kebijakan transmisi harga minyak dunia ini meredakan kekhawatiran pelaku pasar tentang pembengkakan defisit fiskal.

Kepala Strategi Makro Asia di Sumitomo Mitsui Banking Corp, Jeff Ng, mengatakan mulai terlihat tanda-tanda awal stabilisasi. Namun, ia menambahkan bahwa kondisi masih rapuh.

>>> Ko So-young Bagikan Pengalaman Beri ASI Eksklusif Tujuh Bulan

Tekanan dari Pasar Regional dan Global

Kondisi pasar regional Asia tertekan oleh kenaikan harga minyak mentah Brent yang melonjak 2,04 persen ke level US$95 per barel.

Won Korea Selatan memimpin pelemahan sebesar 0,4 persen, diikuti dolar Taiwan 0,2 persen, baht Thailand 0,05 persen, serta yuan China dan ringgit Malaysia masing-masing 0,03 persen dan 0,01 persen.

Sebaliknya, beberapa mata uang Asia justru menguat terhadap dolar AS.

Peso Filipina naik 0,12 persen, diikuti yuan offshore 0,05 persen, yen Jepang 0,03 persen, serta dolar Singapura dan dolar Hong Kong masing-masing 0,02 persen dan 0,01 persen.

Tekanan terhadap mata uang negara berkembang diperkirakan berlanjut seiring proyeksi The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

>>> Jadwal KRL Jogja-Solo 11 Juni 2026: Tarif Rp8.000, Ini Daftar Stasiun

Indeks dolar AS pagi ini bertahan di posisi 100,049 sebelum bergerak tipis ke level 99,91.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru