PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) atau BNI memastikan tetap menjaga fungsi intermediasi secara selektif dan produktif untuk mendukung sektor riil.
Hal ini disampaikan menyusul langkah Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga acuan.
>>> Kebijakan Danantara sebagai Perantara Ekspor Komoditas Strategis Tuai Respons Beragam
Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%. Keputusan ini diambil demi menjaga stabilitas makroekonomi.
Langkah Adaptasi BNI
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengungkapkan bahwa perseroan menilai kebijakan bank sentral tersebut sangat diperlukan. Langkah ini untuk memitigasi dinamika global serta menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Kami memandang kenaikan BI Rate sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional dan memperkuat kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Stabilitas yang terjaga menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan sektor riil maupun industri perbankan," kata Okki.
Okki menuturkan kondisi pasar yang terkendali memberikan ruang bagi perbankan untuk menyalurkan kredit secara hati-hati.
>>> Rupiah Melemah ke Rp 17.947 per Dolar AS pada 11 Juni 2026
Namun, perseroan tetap mencermati dampak kenaikan bunga pada sektor usaha yang sensitif terhadap biaya dana.
Sebagai strategi adaptasi, BNI mengoptimalkan tata kelola perusahaan yang baik dan melakukan transformasi digital. Langkah ini guna meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga kualitas aset portofolio kredit.
"Kami terus memperkuat governance, manajemen risiko, dan kapabilitas digital agar tetap mampu memberikan layanan terbaik kepada nasabah sekaligus menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan berkelanjutan.
Dengan fondasi yang kuat tersebut, BNI optimistis dapat terus mendukung sektor riil dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia," ucap Okki.
Alasan BI Naikkan Suku Bunga
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan keputusan menaikkan BI Rate dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.
Pelemahan tersebut telah melebihi proyeksi awal bank sentral.
>>> BBQ Ride 2026 Hadir dengan Konsep Ruang Terbuka Hijau di Bandung
"Tentu saja waktu membuat keputusan itu kan ada proyeksi-proyeksi. Nah, setiap minggu, setiap hari Selasa, itu Bank Indonesia melakukan evaluasi pelaksanaannya gimana.
Apakah proyeksi ini sejalan atau enggak.
Dalam berbagai evaluasi hari ini kita melihat lho kok pelemahan rupiah melebihi yang kita proyeksikan dulu," kata Perry pada Selasa (9/6/2026).
Perry menambahkan evaluasi berkala tetap berjalan setiap pekan berdasarkan mandat undang-undang. Meskipun keputusan resmi biasanya ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur bulanan.
Tekanan terhadap mata uang Garuda diperparah oleh situasi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
>>> Mirae Asset Luncurkan Trading Booster untuk Pacu Aktivitas Pasar Saham
Hal ini memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, sehingga rupiah luar negeri sempat merosot ke level Rp17.955/US$ pada Kamis (11/6/2026) pagi.