⌂ Beranda News The Binary Holdings Incar Potensi Ekonomi Digital USD10 Miliar di Negara Berkembang

The Binary Holdings Incar Potensi Ekonomi Digital USD10 Miliar di Negara Berkembang

The Binary Holdings Incar Potensi Ekonomi Digital USD10 Miliar di Negara Berkembang
Ilustrasi ekonomi digital di negara berkembang
A A Ukuran Teks16px

Perusahaan teknologi engagement dan monetisasi digital, The Binary Holdings (TBH), tengah membidik potensi ekonomi yang belum tergarap di pasar negara berkembang, termasuk Asia Tenggara.

Peluang besar ini muncul karena tingginya durasi penggunaan perangkat mobile oleh masyarakat yang belum dikonversi menjadi aktivitas ekonomi bernilai tambah.

>>> 9 Perilaku Menyebalkan Orang Cerdas Menurut Psikolog

Founder & CEO TBH, Manit Parikh, menyebut fenomena tersebut sebagai "hidden GDP" atau produk domestik bruto tersembunyi yang berasal dari perhatian dan aktivitas pengguna di ekosistem digital.

"Di pasar seperti Asia Tenggara, Afrika, dan Timur Tengah, pengguna menghabiskan sekitar empat hingga lima jam per hari di perangkat mobile.

Namun, sebagian besar perhatian tersebut belum berhasil dimonetisasi oleh infrastruktur digital yang ada saat ini," ujar Manit Parikh.

Basis pengguna yang dilayani perusahaan secara kolektif menghasilkan sekitar 277 miliar jam perhatian mobile setiap tahun.

Potensi ekonomi dari perhatian tersebut diperkirakan lebih dari USD10 miliar yang belum optimal dimanfaatkan.

Untuk memetakan peluang ini, perusahaan berkolaborasi dengan berbagai pelaku industri, mulai dari operator telekomunikasi, fintech, perbankan, hingga sektor gim dan e-commerce.

>>> Pemerintah Prediksi Rupiah Menguat Bertahap pada Semester II-2026

Langkah optimalisasi dilakukan dengan menghadirkan OneWave, sebuah platform engagement berbasis white-label yang terintegrasi langsung ke dalam aplikasi milik mitra.

Aplikasi operator telekomunikasi yang selama ini cenderung transaksional akan diubah menjadi ekosistem digital yang interaktif.

"OneWave tidak mengharuskan pengguna mengunduh aplikasi baru atau mengubah kebiasaan mereka. Platform ini bekerja langsung di dalam aplikasi yang sudah digunakan sehari-hari oleh pelanggan," katanya.

Platform ini menawarkan berbagai fitur interaktif, meliputi spin-to-earn, video pendek, permainan hyper-casual, hingga voucher berbasis lokasi yang dioptimalkan menggunakan kecerdasan buatan (AI).

Melalui pendekatan tersebut, operator telekomunikasi dapat meningkatkan frekuensi kunjungan pengguna, memperpanjang durasi sesi aplikasi, sekaligus memperkuat retensi pelanggan.

Implementasi awal platform ini diklaim memberikan dampak positif, salah satunya pada peningkatan average revenue per user (ARPU) mitra operator.

"Berdasarkan hasil pilot project dan implementasi awal, kami melihat peningkatan ARPU berkisar antara 11 hingga 25 persen. Durasi sesi pengguna bahkan dapat meningkat hingga 300 persen," ungkap Manit.

>>> BPJS Kesehatan Berpotensi Gagal Bayar Klaim pada Juli 2027

Terdapat tiga sumber monetisasi utama yang dikembangkan, yakni pendapatan dari iklan interaktif, transaksi perdagangan melalui marketplace voucher tertutup, serta pemanfaatan data intelligence berupa analisis perilaku pengguna.

Manit Parikh menambahkan bahwa seluruh peningkatan performa ini dapat dicapai tanpa memicu beban operasional baru maupun menambah biaya akuisisi pelanggan bagi operator telekomunikasi.

Tantangan dan Pembentukan Kebiasaan Baru Pengguna

Tantangan utama dalam proses integrasi ini dinilai bukan berasal dari pengguna, melainkan dari desain awal aplikasi telekomunikasi yang sejak awal dibangun hanya sebagai alat transaksi.

"Kebanyakan aplikasi telko hanya memberikan nilai pada saat pengguna melakukan pembelian. Setelah transaksi selesai, pengguna langsung keluar dari aplikasi," ujarnya.

Sistem insentif kemudian diterapkan oleh platform ini untuk memberikan nilai ekonomi pada setiap aktivitas pengguna. Poin yang dikumpulkan dapat ditukarkan menjadi pulsa, paket data, maupun voucher.

Melalui perpaduan closed-loop ecosystem dan personalisasi berbasis AI, kebiasaan baru pengguna diharapkan dapat terbentuk secara natural di dalam aplikasi yang sudah familiar.

>>> Pasar SUN Menguat Setelah BI Naikkan Suku Bunga ke 5,5%

"Tujuannya bukan mengubah perilaku pengguna secara drastis, tetapi memberikan lebih banyak alasan bagi mereka untuk tetap aktif di dalam ekosistem digital yang sudah familiar," tutupnya.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru