⌂ Beranda News Pasar SUN Menguat Setelah BI Naikkan Suku Bunga ke 5,5%

Pasar SUN Menguat Setelah BI Naikkan Suku Bunga ke 5,5%

Pasar SUN Menguat Setelah BI Naikkan Suku Bunga ke 5,5%
Ilustrasi lelang Surat Utang Negara (SUN) Indonesia
A A Ukuran Teks16px

Pasar Surat Utang Negara (SUN) ramai oleh aksi beli pada sesi perdagangan Rabu, 10 Juni 2026.

Lonjakan minat investor ini dipicu oleh penguatan nilai tukar rupiah di bawah Rp18.000 per dolar AS.

>>> Saham BBRI Bertahan di Zona Hijau pada Sesi I Perdagangan

Bank Indonesia sebelumnya menetapkan kenaikan suku bunga acuan menjadi 5,5 persen. Langkah ini dinilai sukses menyuntikkan sentimen positif jangka pendek demi menjaga stabilitas kurs.

Penurunan Imbal Hasil di Berbagai Tenor

Penurunan imbal hasil atau yield terjadi pada hampir seluruh tenor surat utang.

Tenor acuan 10 tahun mencatat penurunan paling tajam mencapai 15,2 basis poin (bps) ke level 7,26 persen.

Penurunan tersebut diikuti oleh tenor 7 tahun yang merosot 11 bps menjadi 7,35 persen, serta tenor 8 tahun yang turun 7,1 bps ke posisi 7,28 persen.

Sementara itu, tenor 5 dan 6 tahun kompak melemah masing-masing 5,2 bps menjadi 7,33 persen, dan tenor 1 tahun turun terbatas 0,7 bps ke angka 7,27 persen.

Sebaliknya, kenaikan yield melanda beberapa tenor lain.

>>> PT KAI Luncurkan Space by KAI, Platform Digital untuk Investor

Tenor 2 tahun naik 1,3 bps menjadi 7,29 persen, dan tenor 11 tahun naik 1 bps ke level 6,93 persen.

Lonjakan tertinggi dibukukan oleh tenor 13 tahun yang melesat hingga 38,3 bps menjadi 7,51 persen.

Tren penguatan ini merembet ke pasar obligasi pemerintah berdenominasi dolar AS atau INDON.

Imbal hasil INDON tenor 10 tahun turun paling tajam sebesar 2,2 bps ke posisi 5,5 persen, disusul tenor 7 tahun yang turun 1,4 bps ke level 5,15 persen.

Selanjutnya, obligasi INDON tenor 2 tahun turun tipis 0,4 bps menjadi 4,24 persen, dan tenor 5 tahun melemah 1,1 bps ke angka 4,91 persen.

>>> Prabowo Setujui Perluasan Target Bedah Rumah 2027

Namun, yield untuk INDON tenor 3 tahun bergerak naik tipis sebesar 0,2 bps menjadi 4,53 persen.

Penurunan yield pada tenor acuan mencerminkan perbaikan persepsi risiko Indonesia di mata para pelaku pasar keuangan.

Meskipun demikian, stabilitas pasar masih dibayangi ketidakpastian global akibat eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah.

Ketegangan ini berisiko menaikkan pamor dolar AS sebagai aset aman, yang saat ini tecermin dari indeks dolar AS yang kokoh di level 99,91.

Para investor kini mengalihkan fokus pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang dijadwalkan pada 18 Juni 2026.

Pasar menanti kelanjutan arah kebijakan moneter bank sentral tersebut.

>>> Kriteria dan Daftar Mobil yang Aman Pakai Pertalite

"Jika volatilitas rupiah berhasil ditekan di rentang Rp17.500-Rp17.900/US$ hingga RDG bulan ini, maka BI berpeluang untuk tetap mempertahankan BI Rate di 5,5%," kata Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru