Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Sesi I di zona merah dengan koreksi sebesar 160,45 poin atau 2,87 persen ke level 5.434 pada Senin (8/6/2026).
Penurunan ini dipicu oleh sentimen negatif dari rilis data cadangan devisa per Mei 2026 yang menyusut hingga US$144,9 miliar.
>>> KAI Alokasikan Rp3,8 Triliun PMN untuk Pengadaan KRL Jabodetabek
Indeks LQ45 juga ikut merosot 15,42 poin atau 2,77 persen ke posisi 542,31.
Nilai tukar rupiah terus mengalami depresiasi sebesar 0,89 persen ke level Rp18.180 per dolar AS pada pukul 13:10 WIB.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), nilai transaksi perdagangan saham sepanjang hari ini menyentuh Rp12,92 triliun.
Total volume saham yang diperjualbelikan mencapai 20,24 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi sebanyak 1,37 juta kali.
Pergerakan IHSG sejak pagi hingga siang hari terpantau sangat fluktuatif. Indeks bergerak pada rentang level tertinggi 5.523 hingga menyentuh titik terlemahnya di posisi 5.346.
Sebanyak 646 saham mengalami pelemahan harga, sementara 88 saham berhasil menguat. Adapun 79 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan nilai.
>>> Hunex Rilis Mamiya di Nintendo Switch pada Juni 2026
Sektor Pemberat IHSG
Saham-saham di sektor kesehatan, infrastruktur, serta konsumen non-primer menjadi motor utama pemberat IHSG. Masing-masing sektor tersebut terkoreksi sebesar 6,01 persen, 4,71 persen, dan 3,98 persen.
Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa cadangan devisa Indonesia untuk posisi Mei berada di angka US$144,9 miliar.
Jumlah tersebut mengalami penurunan sebesar US$1,3 miliar jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Penurunan yang terjadi sepanjang tahun ini membawa cadangan devisa Tanah Air menyentuh titik terendah sejak Juni 2024 atau dalam hampir dua tahun terakhir.
Langkah stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan Bank Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian pasar keuangan global turut memengaruhi penurunan cadangan devisa tersebut.
>>> Danantara Pastikan Tata Kelola Ekspor Komoditas Strategis Tidak Bebani Pengusaha
“Perkembangan cadangan devisa Mei 2026 ini dipengaruhi penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa, di tengah pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah Bank Indonesia sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman dari domestik,” sebut laporan BI.
Secara keseluruhan, posisi cadangan devisa pada bulan Mei setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor.
Angka ini juga setara dengan 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, sehingga masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
“Ke depan, Bank Indonesia meyakini ketahanan sektor eksternal tetap baik didukung oleh posisi cadangan devisa yang memadai serta aliran masuk modal asing sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang tetap menarik.
Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” imbuh laporan BI.
Tekanan terhadap pasar modal semakin diperberat oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut mendekati level Rp18.200 per dolar AS.
>>> Cadangan Devisa Indonesia Turun ke US$144,9 Miliar, Intervensi Rupiah Jadi Penyebab
“Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian terhadap arah kebijakan ekonomi dalam negeri, sehingga turut memperdalam pelemahan IHSG,” terang Panin Sekuritas dalam catatannya.