Pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level terendah sepanjang sejarah di atas Rp 18.000 per dolar AS semakin menekan minat investor asing terhadap Surat Utang Negara (SUN).
Kondisi ini memicu kehati-hatian investor global akibat meningkatnya risiko nilai tukar dan kekhawatiran terhadap prospek fiskal.
>>> Mengenal Karakter Orang yang Sengaja Mengabaikan Ketukan Pintu
Lelang SUN yang dijadwalkan pada Selasa, 9 Juni 2026, dibayangi oleh tantangan pasar yang berat.
Penurunan kurs secara langsung memengaruhi perhitungan imbal hasil bagi pemodal internasional.
Dampak Pelemahan Rupiah terhadap Pasar SUN
Ekonom Center of Reform on Economics Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan minat investor terhadap SUN menjadi semakin tersegmentasi setelah rupiah menyentuh level terlemah.
Investor domestik relatif tetap aktif karena kewajiban mereka juga berdenominasi rupiah. Sebaliknya, investor asing menjadi jauh lebih selektif karena pelemahan kurs langsung mengurangi imbal hasil dalam dolar AS.
>>> UniPin Gelar Grand Final Road to FFNS 2026 Fall di Jakarta
Tekanan mata uang ini berdampak pada kenaikan premi risiko, potensi inflasi impor, serta kekhawatiran arus keluar modal asing.
Hal tersebut tercermin dari pergerakan yield SUN tenor 10 tahun yang telah meningkat ke kisaran 6,9%.
Yusuf menambahkan bahwa yield yang lebih tinggi belum tentu cukup untuk menarik kembali minat investor asing.
Struktur kepemilikan Surat Berharga Negara menunjukkan porsi investor asing kini menyusut ke kisaran 12,6%, yang menjadi level terendah dalam hampir dua dekade.
Sebaliknya, kepemilikan kini semakin ditopang oleh peningkatan eksposur Bank Indonesia serta investor institusi domestik.
>>> Bandai Namco Resmi Umumkan Rilis Ace Combat 8 pada Oktober 2026
Yusuf menjelaskan bahwa tenor panjang masih akan mendapat permintaan, tetapi lebih selektif dan terutama berasal dari investor jangka panjang yang membutuhkan aset berdurasi panjang.
Minat pada lelang mendatang diprediksi akan lebih terkonsentrasi pada tenor pendek dan seri benchmark yang memiliki likuiditas tinggi.
Pengurangan eksposur instrumen berdurasi panjang ini terjadi di tengah volatilitas nilai tukar dan ketidakpastian suku bunga global.
Beberapa lelang terakhir menunjukkan penawaran yang masuk konsisten jauh di atas target pemerintah. Bid-to-cover ratio kemungkinan tetap sehat.
>>> Timnas Indonesia U-19 Wajib Kalahkan Vietnam demi Tiket Semifinal AFF U-19
Namun, Yusuf mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut kemungkinan harus dibayar dengan yield yang lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya.