⌂ Beranda News Meteorit Sahara NWA 12774 Ungkap Keberadaan Dunia Hilang Seukuran Bulan

Meteorit Sahara NWA 12774 Ungkap Keberadaan Dunia Hilang Seukuran Bulan

Meteorit Sahara NWA 12774 Ungkap Keberadaan Dunia Hilang Seukuran Bulan
Meteorit NWA 12774 yang ditemukan di Gurun Sahara
A A Ukuran Teks16px

Sebuah meteorit langka yang ditemukan di Gurun Sahara pada 2019 membawa bukti tentang dunia kuno yang telah lama hilang.

Dunia tersebut diperkirakan memiliki ukuran sebanding dengan Bulan dan eksis hanya beberapa juta tahun setelah Tata Surya terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

>>> Capcom Resmi Umumkan Ekspansi Monster Hunter Wilds: Ascendance Rilis 2027

Batu antariksa seberat 454 gram itu dikenal sebagai Northwest Africa (NWA) 12774. Para ilmuwan mengklasifikasikannya sebagai angrite, salah satu jenis batuan vulkanik tertua di Tata Surya.

Jejak kimiawi unik di dalam meteorit ini mengindikasikan bahwa sejumlah dunia awal di Tata Surya berkembang melalui proses yang berbeda dari planet berbatu lainnya.

"Material pembentuk benda induk angrite ini secara mendasar berbeda dari bahan pembentuk Bumi dan Mars," kata Aaron Bell, ahli geosains University of Colorado Boulder dan penulis studi.

Melalui pengukuran elemen radioaktif yang berfungsi sebagai jam alami, para ahli mengetahui bahwa angrite terbentuk bersamaan dengan Matahari muda.

Batuan jenis ini sangat langka karena hanya ada 68 dari total 80.000 lebih meteorit di Bumi yang teridentifikasi sebagai angrite.

Karakteristik kimia angrite dinilai membingungkan oleh para peneliti.

>>> Ibu Menyusui Asal Inggris Didiagnosis Kanker Paru Stadium Empat

Berbeda dengan Bumi atau Mars, meteorit ini mengandung silika yang sangat sedikit, padahal zat tersebut merupakan komponen utama penyusun kerak planet di Tata Surya.

Awalnya, kondisi ini membuat ilmuwan menduga bahwa meteorit berasal dari asteroid kecil.

Namun, analisis terbaru pada NWA 12774 menunjukkan adanya kristal dari mineral klinopiroksen yang sangat kaya akan kandungan aluminium.

Temuan mineral tersebut menjadi indikator kuat bahwa batuan antariksa ini terbentuk di bawah tekanan yang sangat masif.

Melalui rekonstruksi simulasi, tim peneliti menemukan mineral itu memerlukan tekanan minimal 17,5 kilobar, atau setara dengan 17 kali lipat tekanan di dasar Palung Mariana.

Tekanan ekstrem tersebut mustahil dihasilkan oleh asteroid yang berukuran kecil. Oleh karena itu, benda induk asal meteorit ini dipastikan memiliki volume yang jauh lebih besar.

Kristal di dalam batuan tersebut juga masih mempertahankan struktur tepian yang tajam serta pola kimia khusus.

>>> Lisa Cloud Apresiasi Penghormatan untuk Angus Cloud di Euphoria

Karakteristik ini diperkirakan bakal memudar apabila tersimpan terlalu lama di dalam interior planet yang bersuhu panas, sehingga mengisyaratkan proses pembentukan di kedalaman yang relatif dangkal.

Melalui skenario pemodelan, objek angkasa yang kini hilang diduga memiliki radius sekitar 1.800 kilometer. Ukuran ini mendekati ukuran Bulan dan berpotensi menyamai ukuran planet Mars.

Proses kehancuran protoplanet kuno ini masih belum diketahui secara pasti.

Salah satu hipotesis kuat menyebutkan dunia tersebut hancur akibat tabrakan dahsyat yang kerap terjadi pada fase awal pembentukan Tata Surya.

Pecahan dari tabrakan besar itu kemudian tersebar dan bergabung ke dalam jajaran planet berbatu lain, termasuk Bumi.

Para peneliti meyakini masih ada sisa-sisa bukti dari protoplanet lain yang belum terungkap hingga saat ini.

>>> Rusia Kembangkan Pariwisata Halal untuk Tarik Wisatawan Muslim

"Ada banyak meteorit masih tersimpan di laci dan belum dipelajari menyeluruh, jadi kemungkinan ada lebih banyak protoplanet seperti ini yang belum kita ketahui," ungkap Bell.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru