Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah isu strategi perdagangan "sell Indonesia" yang dilontarkan oleh salah satu hedge fund asing.
Ia menegaskan kondisi fiskal dan ekonomi nasional tetap kuat.
>>> Cipta Kridatama Raih Gold Winner IMSA 2026 Berkat Budaya Keselamatan Kerja
Pernyataan itu disampaikan Purbaya di Tanjung Priok pada Sabtu (6/6/2026) untuk menjaga kepercayaan pelaku pasar keuangan.
Pemerintah bergerak cepat melakukan klarifikasi guna membendung sentimen negatif yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah.
"Tetapi itu harusnya bisa diperbaiki dengan koordinasi yang baik-baik antara pemerintah, departemen keuangan, dengan bank sentral," terang Purbaya.
Kementerian Keuangan menduga analisis sepihak dari pihak asing tersebut lahir karena ketidaktahuan mendalam mengenai situasi fundamental dalam negeri.
Sebagai langkah konkret, percepatan pemaparan laporan APBNKita dilakukan untuk menyajikan transparansi data keuangan negara kepada publik dan investor internasional.
>>> iOS 27 Hadir Pekan Depan, Empat iPhone Ini Tak Kebagian Update
"Jadi teman-teman investor tolong lihat lebih detail, pahami kondisi ekonomi kita seperti apa.
Saya bisa katakan sekarang adalah fiskal bagus, ekonomi bagus, kepemimpinan Bapak Presiden masih cukup kuat untuk memastikan semua berjalan sesuai dengan strategi pembangunan Bapak Presiden," terangnya.
Sentimen negatif ini awalnya dipicu oleh pernyataan George Boubouras selaku Kepala Riset K2 Asset Management dalam wawancaranya dengan Bloomberg News Wire pada Jumat (5/6/2026).
Lembaga pengelola aset tersebut dilaporkan sudah menarik seluruh dana investasi mereka sejak tahun 2024.
"Saya sama sekali tidak memiliki eksposur terhadap Indonesia," ungkap George Boubouras. Ia juga menegaskan keputusannya untuk tidak mengambil peluang investasi kembali di pasar domestik dalam waktu dekat.
>>> Jetour T1 Resmi Meluncur di Indonesia dengan Varian PHEV dan ICE
"Saya tidak akan memberikan mereka kesempatan," katanya.
Berdasarkan data resmi APBNKita, realisasi anggaran hingga Mei 2026 mencatatkan defisit sebesar Rp180,4 triliun atau setara 0,7 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Nilai defisit ini mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang berada di angka Rp20,9 triliun atau 0,09 persen dari PDB.
Walaupun mengalami pelebaran, nominal defisit berjalan ini dipastikan masih berada jauh di bawah ambang batas target APBN 2026 sebesar Rp689,1 triliun.
Di sisi lain, indikator keseimbangan primer hingga akhir Mei 2026 masih menunjukan angka positif dengan raihan surplus sebesar Rp58,6 triliun.
>>> Danantara Bantah Kabar Wajib Beli Patriot Bond untuk Orang Kaya
"Realisasi pendapatan negara tercatat Rp1.185 triliun sampai Mei 2026, atau tumbuh 19,1% dibanding periode yang sama tahun lalu," kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kinerja dan Fakta, Jumat (5/6/2026).