Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada sesi I perdagangan akhir pekan. Indeks ambles 147 poin atau terkoreksi 2,53 persen ke level 5.692.
Pilarmas Investindo Sekuritas menyebut pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen eksternal dan internal. Dari eksternal, bursa regional Asia tertekan situasi geopolitik yang memanas.
>>> BNI Perkuat Pembiayaan Hijau dan Targetkan Net Zero Emissions
Ketidakpastian gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama. Laporan negosiasi yang terhenti kontras dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebut pembicaraan hampir selesai.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan belum ada kemajuan berarti. Sementara itu, Hizbullah menolak proposal gencatan senjata yang dimediasi AS antara Israel dan Lebanon.
>>> Motul Indonesia Edukasi Teknologi Pelumas di Dunlop Shop Gathering 2026
Pelaku pasar kini menanti laporan ketenagakerjaan AS bulan Mei untuk melihat arah kebijakan The Fed.
Data ketahanan ekonomi AS memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga akhir tahun akibat inflasi energi.
>>> Saham Bank Negara Indonesia Melemah Empat Persen pada Sesi Pertama
Dari dalam negeri, tekanan IHSG diperberat depresiasi nilai tukar rupiah yang terus berlanjut. Kekhawatiran capital outflow juga muncul seiring potensi reklasifikasi MSCI terhadap status pasar modal Indonesia.
Meski demikian, petinggi Bursa Efek Indonesia (BEI) tetap optimistis Indonesia mempertahankan status emerging market. Pada sesi I, saham dengan kenaikan terbesar adalah MPRO, ABDA, RGAS, TPIA, dan MUTU.
>>> Kebijakan Ekspor Feronikel Satu Pintu Berpotensi Tahan Ekspansi Industri Nikel
Saham yang turun terdalam meliputi APIC, WEHA, ALKA, ASPR, dan CBUT. Pilarmas merekomendasikan buy untuk saham TINS dengan support dan resistance 3.100-3.390.