PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatatkan performa bisnis yang bergerak dinamis pada segmen korporasi sepanjang kuartal I/2026.
Emiten telekomunikasi pelat merah ini membukukan kenaikan pendapatan eksternal dari pilar Business-to-Business (B2B) Infrastruktur.
>>> LG Luncurkan CordZero A9 Air, Vacuum Cleaner Nirkabel Ringan dengan Dual Turbo
Namun, perseroan menghadapi tekanan penurunan performa pada pos pendapatan B2B Solusi ICT serta lini Bisnis Internasional dibandingkan dengan kuartal I/2025.
Pertumbuhan B2B Infrastruktur
Berdasarkan Info Memo Telkom Kuartal I/2026 pada Jumat (5/6/2026), lini bisnis B2B Infrastruktur mengukuhkan posisinya sebagai tulang punggung pertumbuhan nilai perusahaan.
Pendapatan eksternal dari sektor ini sukses menembus Rp2,4 triliun, mencerminkan pertumbuhan sebesar 6,8% secara year-on-year (YoY).
Penguatan performa operasional ini ditopang oleh perluasan jaringan infrastruktur dasar yang kini mencakup lebih dari 211.000 kilometer jaringan tulang punggung serat optik di 501 kota seluruh Indonesia.
Perusahaan juga mengoperasikan 3 satelit dengan kapasitas total 42,2 Gbps.
Anak usaha Telkom di bidang menara telekomunikasi, Mitratel, menyumbang kontribusi terbesar pada pilar ini dengan perolehan pendapatan Rp2,3 triliun atau tumbuh 1,4% YoY.
>>> Frisian Flag Ajak Masyarakat Rutin Minum Susu untuk Kesehatan Keluarga
Capaian ini diikuti raihan marjin EBITDA 82,7% dan pengelolaan 40.327 menara.
Sementara itu, lini bisnis pusat data NeutraDC mengantongi total pendapatan Rp399 miliar, sedikit terkoreksi 2,7% YoY.
Penurunan ini terjadi di tengah tingkat utilisasi rata-rata yang mencapai kisaran 76%.
Kontras dengan capaian di sektor infrastruktur, pendapatan eksternal dari pilar B2B ICT mengalami penurunan cukup dalam sebesar 17,6% YoY menjadi Rp3,1 triliun.
Manajemen menyebut penyusutan ini dipicu oleh langkah perampingan performa pada sejumlah perusahaan operasional (OpCos) yang sedang disesuaikan.
>>> WPP Jajaki Penjualan Burson dalam Rencana Restrukturisasi Besar
Melalui strategi tersebut, pilar B2B ICT kini tengah direposisi untuk mengejar pertumbuhan segmen perusahaan (enterprise) yang berkualitas lebih tinggi dan efisien.
Struktur kontribusi produk didominasi oleh layanan connectivity sebesar 66% serta ICT solution sebesar 22%.
Penurunan kinerja juga membayangi sektor Bisnis Internasional. Pendapatan eksternal dari lini internasional terkoreksi tipis 1,2% YoY menuju angka Rp2,8 triliun.
Manajemen menjelaskan koreksi ini merupakan bagian dari proses transisi bisnis seiring adanya pergeseran fokus.
Perseroan mulai mengalihkan konsentrasi pada bisnis konektivitas internasional dan mengurangi porsi bisnis hubbing demi mengincar margin profitabilitas yang lebih sehat untuk jangka panjang.
Secara keseluruhan, fluktuasi pencapaian pada awal tahun ini memperlihatkan fokus emiten dalam menata portofolio bisnis korporasi mereka.
>>> Menteri Perdagangan Akan Naikkan HET Minyakita dalam Waktu Dekat
Telkom berkomitmen menjaga stabilitas profitabilitas konsolidasian di tengah era transformasi ekonomi digital global yang kompetitif melalui penguatan pondasi data pada sektor infrastruktur dan efisiensi selektif pada sektor solusi digital maupun internasional.