⌂ Beranda News Mantan Pejabat Keamanan Siber Gugat IBM dan AT&T Terkait Peretasan

Mantan Pejabat Keamanan Siber Gugat IBM dan AT&T Terkait Peretasan

Mantan Pejabat Keamanan Siber Gugat IBM dan AT&T Terkait Peretasan
Gedung pengadilan federal di New York
A A Ukuran Teks16px

Mantan pejabat keamanan siber International Business Machines Corp.

(IBM) mengajukan gugatan terhadap IBM dan AT&T Inc. Gugatan tersebut menuduh kedua perusahaan menyembunyikan insiden peretasan berulang pada sistem komputer mereka dari pemerintah Amerika Serikat.

>>> Studi: Kecerdasan Anak Tak Cukup Diukur dari Skor IQ Saja

Kasus hukum ini dipublikasikan pada minggu ini di pengadilan federal di New York, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Jumat (5/6/2026).

Gugatan pelapor internal telah didaftarkan sejak tahun 2020.

Gugatan mengeklaim bahwa IBM dan AT&T gagal mengungkapkan serangkaian serangan siber selama bertahun-tahun. Penyerang siber diduga memiliki keterkaitan dengan pemerintah asing.

Perusahaan disembunyikan insiden ini demi memenangkan dan mempertahankan kontrak federal bernilai miliaran dolar dengan memberikan jaminan keamanan palsu.

Infrastruktur cloud berskala besar milik IBM yang ditembus peretas digunakan secara luas oleh instansi pemerintah AS, termasuk militer.

AT&T bertindak sebagai operator untuk Jaringan Inti tersebut atas nama IBM. Sistem telekomunikasi AT&T yang berbasis di Dallas ikut terintegrasi di dalamnya.

>>> Synology Perbarui Ekosistem Bee Series di Computex 2026

Tanggapan IBM dan AT&T

Juru bicara IBM, Adam Pratt, memberikan tanggapan resmi. "Pengaduan ini diajukan enam tahun lalu, dan Departemen Kehakiman AS menolak untuk campur tangan," kata Pratt.

IBM menyatakan keyakinannya bahwa seluruh operasional perusahaan telah berjalan sesuai hukum. Sementara itu, AT&T tidak memberikan respons terhadap permintaan komentar.

Pengacara William Barlow, Jason T. Brown, menjelaskan posisi kliennya.

"Kami menantikan untuk secara agresif menangani perkara ini," kata Brown dari firma Brown, LLC.

Brown menegaskan bahwa perusahaan tidak sepatutnya menjual layanan keamanan siber kepada pemerintah federal di tengah dugaan masalah keamanan internal.

Keputusan Departemen Kehakiman untuk tidak terlibat tidak serta-merta menunjukkan kebenaran pengaduan.

Mantan Wakil Presiden Threat Intelligence IBM, William Barlow, mengeklaim menyaksikan langsung rentetan pembobolan pada jaringan inti.

>>> Kurs Rupiah 5 Juni 2026 Bergerak Bervariasi, Menguat Tipis ke Rp18.018 per Dolar AS

Ia mengaku mendapat tekanan dari eksekutif untuk memanipulasi laporan internal dan menghapus detail krusial dari regulator serta klien pemerintah.

"Pelanggaran data begitu besar dan jaringan inti dirancang begitu buruk sehingga baik IBM maupun AT&T tidak tahu persis data apa yang diretas, siapa yang meretas, di mana data tersebut diretas, atau apakah ada data yang dieksfiltrasi, diubah, atau dimodifikasi," demikian tuduhan dalam gugatan.

Peretas yang didukung pemerintah China, khususnya kelompok APT 10, diduga menjadi dalang di balik beberapa pembobolan jaringan IBM.

Badan intelijen sempat memperingatkan IBM mengenai indikasi bahwa alamat internet perusahaan terhubung dengan infrastruktur siber kelompok peretas China.

Penyelidikan internal IBM menemukan lebih dari 50.000 potensi serangan APT 10 antara tahun 2013 hingga 2016.

Pada 2017, investigasi lanjutan mendeteksi penyusup telah mengakses sekitar 400 akun yang diretas serta hampir 200 sistem dan server di 18 negara.

>>> IHSG Berfluktuasi pada Perdagangan 5 Juni 2026, LQ45 Melemah

Penelusuran lebih lanjut tidak dapat dilaksanakan karena IBM tidak menyimpan catatan log akses sistem. Kedutaan Besar China di Washington, Departemen Pertahanan, dan Departemen Kehakiman AS tidak memberikan komentar.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru