Microsoft Corp. resmi mengumumkan chip komputasi kuantum terbaru bernama Majorana 2 dalam konferensi pengembang Build di San Francisco.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk mewujudkan komputer kuantum komersial pada tahun 2029.
>>> Kemnaker: Angka PHK Turun Jadi 23.470 Pekerja pada Januari-Mei 2026
Chip ini merupakan penerus perangkat riset generasi pertama yang diluncurkan tahun lalu.
Kehadirannya memperketat persaingan antarraksasa teknologi global dalam membangun komputer kuantum fungsional untuk merevolusi sektor kesehatan, keuangan, dan keamanan siber.
Hingga saat ini, belum ada perusahaan yang berhasil membuktikan aplikasi komersial teknologi kuantum di luar ranah penelitian.
Microsoft mengambil pendekatan berbeda dari Google dan IBM dengan memanfaatkan teknologi qubit topologis.
Spesifikasi dan Kemajuan Majorana 2
Majorana 2 dibekali 12 qubit, meningkat dari model sebelumnya yang hanya memiliki 8 qubit.
Pencapaian krusial terletak pada tingkat ketahanan qubit yang mampu bertahan stabil selama lebih dari 20 detik.
Kemampuan tersebut menjadi lompatan besar dibandingkan model terdahulu yang kehilangan stabilitas dalam waktu kurang dari 12 milidetik.
Microsoft juga mengganti konektor aluminium generasi lama dengan superkonduktor berbasis timbal demi meningkatkan performa.
>>> BSI Sediakan Pembiayaan KUR 2026 Hingga Rp100 Juta untuk UMKM
"Berdasarkan kemajuan yang sangat cepat ini, kami mempercepat peta jalan menuju komputer kuantum yang dapat diskalakan dan praktis," kata Chetan Nayak.
"Kami telah memangkas target waktu kami hingga setengahnya dan kini menargetkan pencapaian tersebut pada 2029."
Berbeda dengan komputasi tradisional yang mengandalkan angka nol atau satu, qubit mampu merepresentasikan probabilitas kedua angka tersebut secara bersamaan.
Karakteristik ini memungkinkan komputer kuantum menyelesaikan problem kompleks yang mustahil dipecahkan komputer konvensional.
Tantangan Stabilitas dan Evaluasi Bersama DARPA
Teknologi kuantum tetap menghadapi tantangan besar karena qubit memerlukan lingkungan bersuhu sangat dingin dan terkontrol secara ketat agar berfungsi.
Tanpa kondisi ideal, qubit rentan terhadap kesalahan kalkulasi dan memiliki usia operasional yang sangat pendek.
Pendekatan Microsoft berfokus pada kuasipartikel Majorana yang diadopsi dari teori fisikawan Italia, Ettore Majorana.
>>> Ducati Luncurkan Collezione 100, Koleksi Eksklusif 10 Motor Edisi Terbatas
Perusahaan berharap qubit berbasis Majorana dapat memberikan ketahanan lebih tinggi terhadap error dibanding metode kompetitor.
Proyek ini tetap menuai kritik dari sejumlah peneliti kuantum yang menyangsikan klaim chip generasi pertama Microsoft.
Publikasi ilmiah pendukung chip tersebut dinilai belum cukup kuat membuktikan adanya lompatan besar dalam bidang komputasi kuantum.
Sorotan terhadap program ini juga diperkuat oleh penarikan kembali beberapa riset kuantum yang sebelumnya disokong Microsoft.
Untuk menguji perkembangannya, Microsoft menggandeng Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) milik Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
"Kami memiliki tim ilmuwan terbaik dunia di DARPA yang meninjau program kami setiap minggu dan terlibat secara mendalam dalam setiap detail pekerjaan kami," kata Alam dalam konferensi pers.
"Kami membuka seluruh data kami kepada mereka, semuanya."
Peneliti kuantum Microsoft, Zulfi Alam, menambahkan bahwa perusahaan memilih berbagi detail teknis dengan lembaga pemerintah karena mereka tidak memproduksi komputer kuantum pesaing.
>>> Ariston Indonesia Luncurkan Water Heater Andris 3 untuk Kamar Mandi Modern
"Ide untuk memberikan seluruh data kami kepada laboratorium lain atau pesaing agar mereka dapat mereproduksi teknologi ini pada dasarnya tidak masuk akal dari sudut pandang bisnis," ujarnya.