⌂ Beranda News Wajah Bursa Saham RI Tanpa Saham Konglomerasi Usai Keputusan MSCI

Wajah Bursa Saham RI Tanpa Saham Konglomerasi Usai Keputusan MSCI

Wajah Bursa Saham RI Tanpa Saham Konglomerasi Usai Keputusan MSCI
Grafik pergerakan IHSG
A A Ukuran Teks16px

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun lebih dari 4% selama dua hari berturut-turut, mencerminkan kondisi bursa tanpa saham konglomerasi.

Penurunan ini juga dipengaruhi prospek ekonomi domestik dan global.

>>> Nindya Karya Percepat Pembangunan Sekolah Rakyat Jember, Target Rampung Juni 2026

Langkah MSCI mendepak lima saham konglomerasi dari MSCI Global Standard Indexes turut memperburuk sentimen.

Saham yang didepak adalah PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Sementara itu, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) diturunkan ke kategori Small Cap.

Isu tersebut sudah terdengar sejak awal tahun, sehingga kelima saham tersebut mengakumulasi penurunan signifikan hingga Kamis (4/6/2026).

AMMN turun 50,51% year to date (ytd), BREN turun 57,32% ytd, TPIA turun 79,79% ytd, DSSA turun 84,53% ytd, dan CUAN turun 68,59% ytd.

>>> Harga Emas Antam di Logam Mulia Turun, Pegadaian Stabil

Sejalan dengan penurunan saham konglomerasi yang memiliki bobot besar terhadap IHSG, indeks anjlok 33,84% sejak awal tahun.

Pada Kamis (4/6/2026), IHSG kehilangan 239,78 poin atau sekitar 4% ke level 5.700 pada pukul 11.01.

Dampak Rebalancing MSCI dan Prospek ke Depan

Analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) Erindra Krisnawan mengatakan, dampak langsung perubahan komposisi MSCI adalah keluarnya dana asing (net sell).

Net sell diperkirakan mencapai US$2,2 miliar hingga US$2,7 miliar atau setara lebih dari Rp48 triliun, meski jumlah ini terbatas hingga berlaku efektifnya hasil rebalancing pada 29 Mei.

Kondisi tersebut membuat IHSG kehilangan dorongan yang selama ini berasal dari saham konglomerasi. Erindra memangkas target IHSG tahun ini menjadi 7.200 dari sebelumnya 9.440.

"Revisi ini mencerminkan penghapusan 40% arus dana investor di saham konglomerasi," kata Erindra dalam riset.

>>> Empat Saham Bank Besar Menguat Pasca Rebalancing Indeks MSCI

Revisi target itu bukan karena prospek laba emiten memburuk, melainkan karena tidak lagi memasukkan faktor premium saham konglomerasi yang sebelumnya mengerek valuasi pasar.

Menurut Erindra, IHSG tahun ini tidak sepenuhnya mencerminkan memburuknya kondisi pasar, melainkan sedang menyesuaikan diri dengan kondisi baru.

Di sisi lain, koreksi yang terjadi membuat valuasi pasar saham Indonesia menjadi jauh lebih menarik.

BRIDS mencatat selisih antara earnings yield IHSG dan imbal hasil obligasi pemerintah mencapai sekitar 242 basis poin (bps), jauh di atas rata-rata historis 11 tahun yang berada di kisaran minus 31 bps.

"Valuasi saat ini pada dasarnya sudah mencerminkan skenario pesimistis yang cukup ekstrem," ujar Erindra.

>>> Suahasil Nazara Paparkan Prospek Investasi Indonesia di Forum UBS

BRIDS melihat peluang pemulihan jangka pendek mulai terbuka setelah tekanan rebalancing MSCI mereda, pelemahan rupiah memasuki periode lebih stabil, dan kekhawatiran kenaikan harga minyak global mulai berkurang.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru