⌂ Beranda News Saham BBCA Anjlok ke Level Terendah Akibat Rebalancing MSCI

Saham BBCA Anjlok ke Level Terendah Akibat Rebalancing MSCI

Saham BBCA Anjlok ke Level Terendah Akibat Rebalancing MSCI
Grafik saham BBCA anjlok
A A Ukuran Teks16px

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok hingga menyentuh Rp 5.400 per lembar pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi.

Level tersebut merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir.

>>> AS Siap Hadapi Dampak Ekonomi Perang demi Cegah Iran Miliki Senjata Nuklir

Berdasarkan data dari Investor. id, saham BBCA melemah 0,90% ke level Rp 5.450 sekitar pukul 09.20 WIB.

Aksi jual bersih investor asing tercatat mencapai Rp 49,5 miliar.

Tekanan jual ini melanjutkan tren negatif dari hari sebelumnya.

Pada Rabu (3/6/2026), saham BBCA merosot 5,15% ke posisi Rp 5.525 dengan total nilai transaksi Rp 1,99 triliun.

Penyebab Pelemahan

Analis Saham Trimegah Sekuritas Jonathan Gunawan menilai pelemahan tajam ini lebih dipicu oleh penyesuaian portofolio investor institusi global.

Perubahan komposisi indeks MSCI menjadi faktor utama, bukan karena fundamental perseroan.

"Kalau melihat momentumnya, tekanan terbesar kemungkinan berasal dari rebalancing MSCI.

>>> 5 Rekomendasi Koper Kabin yang Awet dan Praktis untuk Liburan

Karena Jumat kemarin adalah hari terakhir sebelum perubahan indeks efektif, maka banyak fund pasif harus menyesuaikan bobot portofolionya pada hari itu juga," kata Jonathan, Senin (1/6/2026).

Ia menambahkan bahwa BBCA yang memiliki likuiditas tinggi serta bobot besar sering menjadi sasaran utama transaksi pemangkasan eksposur pasar di Indonesia oleh manajer investasi global.

"BBCA itu sangat likuid dan bobotnya besar.

Jadi ketika ada fund yang harus mengurangi eksposur Indonesia, saham seperti BBCA bisa ikut tertekan meskipun fundamentalnya tidak berubah.

Ini yang membuat koreksinya terlihat dalam pada hari rebalancing," ujar Jonathan.

Kendati demikian, Jonathan melihat koreksi teknis akibat indeks global ini bersifat sementara.

Perseroan masih didukung oleh profil profitabilitas yang solid serta rencana pembagian dividen interim sebanyak tiga kali sepanjang tahun 2026.

>>> Rico Waas Bantah Pemkot Medan Tanggung Biaya Akomodasi Piala AFF U-19

"Setelah tekanan MSCI selesai, investor akan kembali melihat kualitas emiten. Untuk BBCA, faktor yang akan diperhatikan adalah pertumbuhan laba, kualitas kredit, dana murah, dan dividen.

Jadi kalau fundamental tetap kuat, koreksi akibat rebalancing bisa dilihat sebagai tekanan sementara," kata Jonathan.

Peluang pembalikan arah atau rebound diperkirakan masih terbuka lebar. Syaratnya, tekanan jual dari modal asing di pasar domestik mulai mereda dalam jangka pendek.

"Kalau BBCA bisa bertahan di atas Rp 5.700 dan foreign sell mulai mereda, peluang rebound ke area Rp5.850 sampai Rp6.000 cukup terbuka.

Tetapi kalau tekanan asing masih besar, saham ini masih bisa bergerak volatil lebih dulu," ujarnya.

Secara keseluruhan, Jonathan menegaskan bahwa kondisi terburuk dari sentimen teknis indeks global telah terlewati. Kini pergerakan harga saham akan kembali diuji oleh kinerja internal perusahaan.

"Worst case dari sisi teknis MSCI berpotensi sudah lewat. Selanjutnya, BBCA akan kembali diuji oleh fundamentalnya.

>>> Yamaha Pramac Tampil dengan Livery Pininfarina di MotoGP Italia 2026

Dan sejauh ini, fundamental BBCA masih menjadi salah satu yang paling solid di sektor perbankan," kata Jonathan.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru