⌂ Beranda News IHSG Anjlok ke 5.864, Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

IHSG Anjlok ke 5.864, Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS

IHSG Anjlok ke 5.864, Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS
Ilustrasi nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Singapura dan AS
A A Ukuran Teks16px

Pasar keuangan Indonesia mengalami tekanan hebat pada Kamis, 4 Juni 2026 pagi.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok ke level 5.864,04, sementara nilai tukar rupiah menembus angka Rp18.000 per dolar Amerika Serikat.

>>> Raffi Ahmad Jalani Operasi Angkat Lipoma di Bahu

Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia, IHSG langsung dibuka merosot ke level 5.919,57.

Indeks terus tertekan hingga melemah 1,30 persen pada pukul 09.08 WIB dengan transaksi mencapai Rp2,544 triliun untuk 4,036 miliar saham.

Kondisi ini melanjutkan tren negatif dari penutupan perdagangan Rabu, 3 Juni 2026.

Saat itu IHSG ambruk 4,11 persen ke posisi 5.941 setelah sempat anjlok hingga 4,94 persen pada sesi pertama.

Media Singapura, The Straits Times, melaporkan bahwa penurunan tajam ini membuat pasar saham Indonesia mencatatkan kinerja terburuk sepanjang tahun 2026.

Kinerja ini dibandingkan dengan lebih dari 90 indeks ekuitas global yang dipantau oleh Bloomberg.

Rupiah Melemah Signifikan

Tekanan di pasar modal selaras dengan ambruknya nilai tukar rupiah.

Berdasarkan data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah menembus Rp17.982 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp18.015 di Google Finance.

Pada Rabu sore, rupiah juga tercatat melemah hingga Rp14.001 per dolar Singapura.

The Straits Times menyoroti menyusutnya cadangan devisa Indonesia pada April ke level terendah dalam dua tahun terakhir akibat intervensi bank sentral.

Penurunan cadangan devisa ini memicu pemangkasan prospek peringkat kredit oleh Fitch Ratings dan Moody's Ratings.

>>> IHSG dan Rupiah Terpuruk di Tengah Defisit Neraca Pembayaran

Para analis menilai merosotnya indikator ekonomi ini bukan hanya karena faktor eksternal, tetapi juga akumulasi kelemahan struktural di dalam negeri.

Pengamat Ekonomi Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, mengatakan bahwa pelemahan ini tidak sepenuhnya berasal dari faktor eksternal.

Yield US Treasury yang masih tinggi, ketidakpastian arah suku bunga The Fed, harga energi, dan ketegangan geopolitik memang menekan aset negara berkembang.

Ia menambahkan bahwa risiko domestik seperti stabilitas rupiah yang rapuh dan premi risiko yang tinggi membuat investor global menahan diri.

Biaya risiko investasi di Indonesia mengalami kenaikan.

"Jadi, Indonesia masih menarik secara potensi, tetapi kurang meyakinkan secara risiko. Investor tidak meninggalkan Indonesia karena peluangnya hilang, mereka menahan diri karena harga risiko Indonesia naik," terangnya.

Menurutnya, jika lingkaran negatif antara pelemahan kurs, arus modal keluar, dan penurunan pasar saham terus berlanjut, dampaknya bagi perekonomian nasional akan bersifat jangka panjang.

"Rupiah yang lemah menaikkan biaya impor dan utang valas, lalu menekan laba emiten. IHSG yang turun memperburuk sentimen investor.

Sentimen yang memburuk kembali menekan rupiah," pungkasnya.

Pengamat Pasar Keuangan, Ibrahim Assuaibi, menyoroti tingginya kebutuhan korporasi terhadap mata uang asing untuk impor energi, pembayaran utang, dan pembagian dividen.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru