⌂ Beranda News IHSG dan Rupiah Terpuruk di Tengah Defisit Neraca Pembayaran

IHSG dan Rupiah Terpuruk di Tengah Defisit Neraca Pembayaran

IHSG dan Rupiah Terpuruk di Tengah Defisit Neraca Pembayaran
Grafik IHSG dan rupiah melemah
A A Ukuran Teks16px

Pasar keuangan Indonesia kembali tertekan pada Kamis (4/6/2026). IHSG dibuka merosot 4,75% ke level 5.658,76 pada pukul 09:19 WIB.

Sebelumnya, pada Rabu (3/6/2026), IHSG ditutup di posisi 5.941,07. Angka itu menjadi level terendah sejak Mei 2021.

>>> 7 Keunggulan Hyundai Santa Fe XRT, SUV Keluarga Tangguh

Pelemahan juga terjadi pada nilai tukar rupiah.

Rupiah dibuka melemah 0,06% ke Rp17.960/US$ dan terus merosot 0,25% ke Rp18.020/US$ pada pukul 09:25 WIB.

Level tersebut merupakan rekor terlemah sepanjang sejarah. Sehari sebelumnya, rupiah ditutup di Rp17.957/US$.

Koreksi tajam rupiah berdampak langsung pada emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Biaya produksi membengkak, terutama bagi perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor.

Survei S&P Global menunjukkan Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Mei berada di level 50. Angka itu naik tipis dari 49,1 pada April.

Skor 50 menandakan batas minimal zona ekspansi. Aktivitas manufaktur nasional belum bergerak agresif dan masih menghadapi lonjakan biaya operasional.

>>> Barcode Gokart Kirim Empat Pembalap Indonesia ke SWS International E-Finals 2026

Depresiasi rupiah juga memperberat beban utang luar negeri korporasi. Ketika biaya produksi meningkat dan beban utang menghimpit, profitabilitas emiten tergerus sehingga memicu aksi jual massal.

Sentimen Negatif Menekan Pasar

Sejumlah faktor negatif menahan laju IHSG dan rupiah. Pertama, Moody's Ratings memberikan peringkat kredit Baa2 untuk PT Danantara Investment Management (DIM) dengan outlook negatif.

DIM merupakan entitas pengelola investasi di bawah Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Peringkat tersebut menghadirkan sentimen kurang menguntungkan.

Kedua, data ekonomi domestik yang melandai. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada April masih surplus US$ 89,1 juta.

Namun, surplus itu menjadi yang terkecil sejak April 2020. Ini merupakan titik terendah selama periode surplus 72 bulan berturut-turut.

Bank Indonesia (BI) melaporkan defisit Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal I-2026 mencapai US$ 9,15 miliar.

>>> Basboi Luncurkan Album Kasablanka, Versi Paling Orisinal dari Perjalanan Hidupnya

Defisit itu membengkak signifikan dibanding kuartal sebelumnya yang surplus US$ 6,07 miliar.

Angka defisit kuartal I-2026 telah melampaui total defisit sepanjang tahun 2025 yang sebesar US$ 7,84 miliar. Defisit NPI mengindikasikan berkurangnya pasokan valas di dalam negeri.

Ketiga, arah kebijakan fiskal pemerintah.

Realisasi belanja dalam APBN 2026 melonjak 31,4% secara tahunan per akhir Maret, sementara penerimaan negara hanya tumbuh 10,5%.

Belanja populis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan komitmen menahan harga BBM di tengah konflik Timur Tengah memicu kekhawatiran investor terhadap disiplin fiskal.

Mohit Mirpuri, Partner di SMGC Capital Pte, mengatakan investor masih waspada terhadap arah kebijakan fiskal Indonesia, risiko penurunan rating, dan pelemahan rupiah.

>>> OpenAI Luncurkan Tool Baru Codex untuk Pekerja Finansial dan Hukum

Meski koreksi membuat valuasi IHSG menarik, pasar masih menanti sentimen positif terkait stabilitas rating, kejelasan kebijakan, dan arus modal masuk untuk mengembalikan kepercayaan.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru