Pertumbuhan ekonomi Australia melambat lebih dalam dari perkiraan pada kuartal pertama tahun ini.
Sektor rumah tangga menahan pengeluaran mereka di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak dan kenaikan suku bunga acuan.
>>> Pemerintah Permanenkan PPh Final UMKM 0,5 Persen, Pekerja Ekonomi Kreatif Dikecualikan
Produk Domestik Bruto (PDB) Australia hanya tumbuh 0,3 persen pada tiga bulan pertama tahun ini.
Angka tersebut meleset dari estimasi pasar dan hanya sepertiga dari kecepatan pertumbuhan kuartal sebelumnya.
Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi Australia berada di angka 2,5 persen. Data resmi pemerintah menunjukkan pengetatan pengeluaran terjadi di beberapa sektor sekaligus.
Grace Kim, kepala Akuntansi Nasional di Biro Statistik Australia (ABS), mengatakan pertumbuhan melambat seiring rendahnya pengeluaran sektor rumah tangga dan publik.
Ia menilai situasi ini berkaitan erat dengan kebijakan moneter yang ketat.
>>> Bursa Kripto CFX Gelar CCC 2026 untuk Perkuat Kepercayaan Pasar
"Kenaikan suku bunga dan lonjakan signifikan biaya bahan bakar pada bulan Maret tampaknya menciptakan lingkungan yang membuat perilaku konsumen menjadi jauh lebih berhati-hati," ujar Kim.
Mata uang dolar Australia bergerak fluktuatif di bawah level 71,8 sen AS setelah rilis data tersebut. Imbal hasil surat utang pemerintah tenor tiga tahun memangkas keuntungan sebelumnya.
Pelaku pasar swap melihat peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Reserve Bank of Australia (RBA) bulan Agustus hanya 50:50.
Namun, proyeksi bahwa RBA mungkin menaikkan suku bunga sekali lagi sebelum akhir tahun tetap dipertahankan.
>>> Samsung Display Pamerkan Layar Ultra Slim OLED Laptop Tertipis di Computex 2026
Laporan PDB ini menjadi data fundamental yang akan diperiksa RBA menjelang pertemuan kebijakan pada 15-16 Juni.
Bulan lalu, RBA menaikkan suku bunga acuan untuk ketiga kalinya berturut-turut menjadi 4,35 persen.
Perlambatan terjadi di tengah perang AS-Iran yang mengerek biaya energi global. Westpac Banking Corp memperingatkan potensi kontraksi ekonomi Australia pada periode April hingga Juni.
Tekanan inflasi baru sudah muncul bahkan sebelum guncangan sektor energi. Situasi global dipastikan akan mendorong harga-harga naik lebih tinggi lagi.
Ian Harper, anggota dewan RBA, menekankan pentingnya memastikan efek kenaikan harga tidak mengakar dalam perekonomian.
>>> Moody's Tetapkan Peringkat Baa2 dengan Outlook Negatif untuk Danantara Investment
Sementara itu, Goldman Sachs Group Inc memprediksi kenaikan suku bunga terakhir sebesar 25 basis poin pada Agustus, membawa suku bunga acuan ke 4,6 persen.