⌂ Beranda News Bahasa Inggris Wajib SD 2027, Pakar Unair: Risiko Ketimpangan Mengintai

Bahasa Inggris Wajib SD 2027, Pakar Unair: Risiko Ketimpangan Mengintai

Bahasa Inggris Wajib SD 2027, Pakar Unair: Risiko Ketimpangan Mengintai
Siswa SD belajar bahasa Inggris
A A Ukuran Teks16px

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menetapkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib mulai kelas 3 SD pada 2027.

Dosen Sosiologi Universitas Airlangga (Unair), Rafi Aufa Mawardi, mengingatkan adanya risiko ketimpangan yang bisa terjadi.

>>> Mabes TNI Hormati Putusan Praperadilan Kasus Penyiraman Air Keras Andrie Yunus

Secara normatif, wacana ini merupakan langkah konkret melatih kefasihan siswa. Namun, penerapan seragam tanpa membenahi persoalan fundamental berpotensi memperlebar jurang kesenjangan pendidikan.

“Padahal, tidak fasihnya siswa berbahasa Inggris juga dapat mengakibatkan ketimpangan pada kualitas mata pelajaran bahasa Inggris itu sendiri,” ucap Rafi dikutip dari laman unair.

ac. id, Rabu, 3 Juni 2026.

Dia menuturkan adanya daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) yang mengalami kesulitan mengakses pendidikan. Hal itu menjadi tanda belum adanya kesetaraan dalam kualitas pendidikan di Indonesia.

Pemerintah seharusnya memastikan kebutuhan fundamental dalam pendidikan tercapai terlebih dahulu. Seperti pemenuhan aksesibilitas pendidikan, infrastruktur, kualitas dan gaji guru.

>>> Summarecon Gelar Operasi Katarak Gratis di Bandung, Bantu 104 Pasien

“Negara perlu memastikan bahwa penguatan bahasa Inggris tidak berubah menjadi reproduksi ketimpangan, komersialisasi kemampuan bahasa, atau pengaburan terhadap identitas kebahasaan nasional (bahasa daerah),” tegas dia.

Dalam konteks pedagogis, guru adalah instrumen fundamental menumbuhkan pola pikir dan mengasah kompetensi. Rafi menilai peran guru akan berubah sangat signifikan.

Menurut dia, kini guru tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, namun juga sebagai mediator budaya dan agen perubahan sosial di sekolah.

Peran guru harus bisa menjembatani pengintegrasian kebudayaan lokal ke dalam praktik pembelajaran.

Upaya integrasi ini dapat dilakukan melalui penciptaan materi diskusi, proyek, dan presentasi dalam bahasa Inggris. Termasuk mengangkat cerita rakyat, tradisi daerah, kearifan lokal maupun masalah sosial di daerahnya.

“Dengan begitu, bahasa asing tidak memutus hubungan anak dengan budaya lokal. Melainkan justru menjadi alat untuk merepresentasikan identitasnya ke ruang global,” ujar dia.

>>> Vitória Tekuk Fortaleza 2-1 di Leg Pertama Final Copa do Nordeste

Dalam pandangan sosiologi pendidikan, ruang kelas bukan sekadar tempat bertukar ilmu. Melainkan wadah interaksi sosial yang dapat memengaruhi kepercayaan diri dan identitas peserta didik.

Rafi mengatakan hambatan peserta didik dalam menguasai bahasa asing bukanlah kegagalan pemahaman. Melainkan, rasa takut dan malu atas ejekan atau pelabelan tertentu ketika mereka melakukan kesalahan.

Kondisi ini dapat teratasi dengan membangun ekosistem kelas yang mampu menerapkan pendekatan humanis dan dialogis. Tujuannya untuk menormalisasi kesalahan sebagai proses belajar alami.

Pada akhirnya, pemerintah harus melakukan implementasi secara bertahap, adaptif, dan tidak elitis. Agar kemampuan berbahasa asing tidak menjadi simbol eksklusivitas.

“Harapan saya, jika kebijakan ini benar-benar terealisasi, orientasinya tidak berhenti pada penciptaan siswa yang fasih berbahasa Inggris semata.

>>> Rupiah Melemah ke Rp17.887 per Dolar AS Akibat Lonjakan Harga Minyak

Tetapi juga melahirkan generasi yang tetap kritis, inklusif, dan berakar pada identitas sosial-budayanya sendiri,” tegas dia.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru