⌂ Beranda News Garasi.id: Jangan Terlambat Jual Kendaraan Operasional Perusahaan

Garasi.id: Jangan Terlambat Jual Kendaraan Operasional Perusahaan

Garasi.id: Jangan Terlambat Jual Kendaraan Operasional Perusahaan
Ilustrasi mobil menyalakan lampu hazard saat hujan deras
A A Ukuran Teks16px

Banyak perusahaan dinilai terlambat menjual kendaraan operasional meskipun nilai aset terus menyusut setiap tahun.

Kebiasaan mempertahankan armada terlalu lama justru memicu pembengkakan biaya perawatan dan menurunkan nilai pasar kendaraan secara drastis.

>>> KPK Jadwalkan Pemeriksaan Enam Saksi Kasus Korupsi Kuota Haji

CEO Garasi.

id, Ardy Alam, mengungkapkan bahwa kesalahan utama pelaku usaha adalah mempertahankan kendaraan operasional hanya karena dianggap masih layak jalan.

Padahal, nilai ekonomi aset tersebut terus menurun setiap bulan.

Tekanan finansial mulai meningkat saat kendaraan memasuki usia pemakaian empat hingga lima tahun.

Pada fase ini, pergantian komponen aus, frekuensi servis berkala, dan risiko kerusakan besar pada mesin mulai bermunculan.

Biaya servis tahunan yang sebelumnya berkisar Rp3 juta hingga Rp5 juta dapat meningkat menjadi Rp10 juta hingga Rp15 juta per tahun.

Angka tersebut bisa lebih tinggi jika terjadi kerusakan pada komponen utama seperti transmisi, sistem pendingin, maupun kaki-kaki.

Kombinasi antara penurunan nilai jual dan lonjakan biaya pemeliharaan berisiko membebani arus kas perusahaan. Kendaraan yang semula mendukung efisiensi operasional justru berubah menjadi beban finansial baru.

Dalam simulasi yang dipaparkan Ardy Alam, kendaraan operasional yang dibeli seharga Rp250 juta masih memiliki nilai pasar sekitar Rp140 juta hingga Rp150 juta apabila dijual pada tahun keempat pemakaian.

>>> Universitas Brawijaya Terima 5.842 Mahasiswa Baru Jalur UTBK SNBT 2026

Pada periode empat tahun pertama, kondisi mobil umumnya masih prima dan minim risiko perbaikan besar.

Sebaliknya, jika perusahaan baru menjual armada pada tahun keenam atau ketujuh, harga pasarnya merosot ke angka Rp90 juta hingga Rp110 juta.

Ditambah lagi, angka odometer yang tinggi memperbesar potensi kerusakan komponen fatal.

Akibatnya, perusahaan berpotensi kehilangan nilai sebesar Rp30 juta hingga Rp50 juta per unit hanya karena terlambat menjual kendaraan selama satu hingga dua tahun.

Kerugian ini belum menghitung biaya pemeliharaan ekstra yang dikeluarkan selama masa penundaan.

Pilihan Jalur Penjualan Kendaraan Perusahaan

Melego kendaraan ke showroom menjadi opsi populer karena menawarkan prosedur administrasi ringkas dan pencairan dana cepat.

Jalur ini juga efisien untuk penjualan aset dalam skala besar tanpa perlu mencari konsumen mandiri.

Namun, pihak showroom mengambil margin keuntungan untuk menutup biaya perbaikan, risiko penyimpanan, dan penyusutan harga. Hal ini membuat penawaran cenderung di bawah harga pasar tertinggi.

Sebagai ilustrasi, kendaraan dengan nilai pasar Rp145 juta dapat ditawar showroom pada kisaran Rp120 juta hingga Rp130 juta.

Jika selisih harga mencapai Rp15 juta per unit, perusahaan yang menjual 20 kendaraan sekaligus berpotensi kehilangan nilai hingga Rp300 juta.

>>> Pemprov Lampung Beri Diskon Pajak Kendaraan Hingga Agustus 2026

Penjualan langsung ke konsumen akhir menjadi alternatif untuk mendapatkan harga tertinggi, tetapi perusahaan harus menghadapi negosiasi yang alot.

Calon pembeli biasanya menuntut transparansi total mengenai riwayat kecelakaan, banjir, kebocoran oli, hingga catatan servis.

Guna mengatasi hambatan tersebut, Garasi. id menghadirkan program inspeksi kendaraan yang mencakup 170 titik pemeriksaan komprehensif.

Aspek pemeriksaan meliputi sektor mesin, transmisi, kelistrikan, struktur rangka, interior, hingga indikasi dampak banjir.

"Banyak perusahaan sebenarnya tidak rugi karena mobilnya jelek, tapi karena tidak punya data yang bisa membuktikan kondisi kendaraan secara profesional.

Akhirnya harga ditekan terus saat negosiasi," ujar Ardy Alam.

Melalui laporan independen tersebut, pelaku usaha dapat mempertahankan nilai jual aset di pasar mobil bekas secara objektif.

Kendaraan operasional harus dipandang sebagai aset dinamis yang memiliki siklus perputaran nilai optimal.

"Banyak perusahaan baru menjual kendaraan ketika biaya sudah tinggi dan nilainya turun jauh. Padahal, dengan adanya Inspeksi Mobil Garasi.

>>> Cara Cek PIP Lewat HP Mudahkan Siswa Pantau Bantuan Pendidikan

id konsumen bisa mempunyai data yang tepat, keputusan bisa diambil lebih cepat dan jauh lebih menguntungkan," tutup Ardy.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru