⌂ Beranda News Kenaikan Harga Solar Industri Bebani Operasional Tambang

Kenaikan Harga Solar Industri Bebani Operasional Tambang

Kenaikan Harga Solar Industri Bebani Operasional Tambang
Alat berat di tambang dengan latar belakang tangki bahan bakar solar
A A Ukuran Teks16px

Pelaku usaha pertambangan mengalami tekanan biaya operasional akibat lonjakan harga solar industri atau High Speed Diesel (HSD) B40 periode 1—14 Juni 2026.

Kenaikan ini dipicu penutupan jalur distribusi migas dunia di Selat Hormuz.

>>> Kurs Dolar AS di BCA, Mandiri, dan BNI pada 2 Juni 2026

Berdasarkan data PT Global Nararya Multitrading selaku penyalur PT Pertamina Patra Niaga, lonjakan harga rata-rata mencapai Rp100 per liter di seluruh area.

Rerata harga keekonomian di Indonesia Timur menyentuh Rp26.200 per liter, bahkan menembus Rp31.000 per liter di Sulawesi Tenggara.

Dampak pada Biaya Operasional

Direktur PT Zubay Mining, Muhammad Emil, mengatakan kenaikan ini memberikan tekanan terhadap biaya operasional tambang, terutama untuk kegiatan hauling dan konsumsi solar alat berat.

>>> Saham BBRI Melonjak 2,03 Persen pada Perdagangan Sesi I

Perusahaan tambang terpaksa melakukan efisiensi ketat, seperti memperbaiki jalur pengangkutan material dan mengoptimalkan siklus waktu edar tambang.

Pengeluaran bahan bakar menjadi salah satu komponen terbesar dalam struktur biaya tambang.

Kontribusinya bagi tambang terbuka berkisar antara 20 persen hingga 40 persen dari total biaya operasional, tergantung jarak hauling dan kondisi jalan.

>>> Harga Solar Nonsubsidi Pertamina, BP, dan Shell Turun per 1 Juni 2026

Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (Perhapi) mencatat situasi diperparah oleh kelesuan sektor tambang akibat pemangkasan kuota produksi RKAB 2026.

Ketua Bidang Hubungan Industri Perhapi, Ardhi Ishak Koesen, memperingatkan kombinasi lonjakan biaya bahan bakar dan penurunan kuota berisiko memicu gelombang PHK.

“Ya sudah ada yang merumahkan karyawan dampak dari pemotongan RKAB batu bara, karena porsi yang dipotong cukup besar, 25% atau sekitar 200 juta ton batu bara,” kata Ardhi.

>>> Xiaomi Resmi Luncurkan Redmi Pad 2 9.7 di Indonesia, Harga Rp2,3 Juta

Secara global, harga solar dunia terus naik akibat konflik di Timur Tengah yang berdampak pada biaya pengiriman produk minyak.

H
Tim Redaksi
Penulis: Hana
📰 Update Terbaru