⌂ Beranda News Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Amankan Finansial Pertamina dari Tekanan Fiskal

Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Amankan Finansial Pertamina dari Tekanan Fiskal

Kenaikan Harga Pertamax Dinilai Amankan Finansial Pertamina dari Tekanan Fiskal
Antrean kendaraan di SPBU Pertalite
A A Ukuran Teks16px

Penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter dinilai masih berada di bawah harga keekonomian ideal.

Berdasarkan data pasar, harga bensin dengan nilai oktan RON 92 diperkirakan mencapai kisaran Rp16.500 per liter.

>>> Kurs Dolar AS di BCA, Mandiri, BRI, BNI 17 Juni 2026 Variatif

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menjelaskan bahwa selisih harga jual baru dengan nilai pasar riil saat ini masih terpaut sekitar Rp250 per liter.

"Dengan harga jual baru Rp16.250, Pertamax masih dijual di bawah harga keekonomian sekitar Rp250/liter," ujar Josua saat dihubungi, Rabu (17/6/2026).

Faktor utama tingginya harga keekonomian didorong oleh lonjakan harga minyak mentah dunia yang melampaui asumsi APBN di level US$70 per barel serta tekanan depresiasi rupiah.

"Jika harga Pertamax tetap ditahan di Rp12.300 terlalu lama, beban harus ditanggung Pertamina dan pada akhirnya berpotensi masuk ke kompensasi pemerintah dan beban ke APBN akan makin besar," tambahnya.

Langkah Koreksi untuk Mitigasi Risiko

Kebijakan menaikkan harga Pertamax sebesar 32 persen dipandang sebagai langkah koreksi tepat untuk memitigasi risiko kerugian besar pada neraca keuangan korporasi negara.

"Dalam konteks tekanan fiskal, kenaikan ini merupakan langkah koreksi yang perlu untuk mengurangi beban tersembunyi, memperbaiki sinyal harga energi, dan menunjukkan bahwa pemerintah tidak sepenuhnya menahan harga energi dengan biaya fiskal yang semakin mahal," tuturnya.

Sebelum penyesuaian resmi dilakukan pada Rabu (10/6/2026), harga keekonomian riil Pertamax dilaporkan sempat menyentuh level Rp17.000-an per liter.

>>> IHSG 17 Juni 2026 Melesat 66 Poin, BRMS dan ENRG Masuk Top Gainers

Corporate Secretary PPN Roberth MV Dumatubun mengonfirmasi bahwa perusahaan sempat menahan harga jual pada level Rp12.300 per liter sejak Maret 2026 berdasarkan hasil diskusi bersama pemerintah.

Skema penahanan harga tersebut mengharuskan perseroan menutupi selisih biaya terlebih dahulu sebelum nantinya mendapatkan pembayaran kompensasi energi dari pemerintah.

"Ya, kurang lebih begitu kalau range harganya [Pertamax di sekitar Rp17.000-an/liter]," kata Roberth ketika dihubungi, Selasa (12/5/2026).

"Untuk selisih, karena harga ditahan setiap bulan, diberikan kompensasi dari pemerintah untuk selisihnya setelah pembahasan," tegas dia.

Roberth juga membeberkan harga tanpa subsidi untuk jenis bensin Pertalite yang aslinya telah menembus angka Rp16.088 per liter.

Pertalite dikategorikan sebagai Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) yang disubsidi, sedangkan Pertamax masuk dalam Jenis BBM Umum (JBU) yang harganya mengikuti mekanisme pasar.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyebutkan bahwa langkah fluktuasi harga ini juga lazim diterapkan oleh para operator SPBU swasta di Indonesia.

"Penyesuaian pada harga BBM nonsubsidi ini dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik global dan harga minyak yang berlaku di pasar Internasional," kata Simon dalam keterangan resminya, Kamis (11/6/2026) malam.

>>> IHSG Menguat 1,41% ke 6.343 pada Perdagangan Rabu 17 Juni 2026

Manajemen menegaskan tidak ada perubahan nominal tarif untuk jenis BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar yang masing-masing tetap dipatok Rp10.000 dan Rp6.800 per liter.

"Di tengah tantangan global yang terus berkembang, Pertamina dengan dukungan penuh dari pemerintah terus berkomitmen menjaga ketersediaan energi bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia," ujar Simon.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menyatakan bahwa pergerakan harga BBM nonsubsidi sepenuhnya dilepas ke mekanisme pasar internasional.

"Kalau bicara BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, harganya ini kan memang mekanismenya dilepaskan ke harga pasar.

Jadi ketika harga minyak ini naik, mau tidak mau ada penyesuaian," kata Anggia kepada awak media di Kantor Kementerian ESDM, Kamis (11/6/2026).

Pemerintah optimistis dampak berantai terhadap inflasi dapat diredam karena sektor transportasi umum dan angkutan logistik utama tetap memakai BBM bersubsidi.

"Paling tidak, efek domino ini bisa diminimalisir. Kenapa?

>>> Piala Dunia 2026 Jadi Ajang Pertama Pasar Prediksi Meledak

Karena, contoh untuk transportasi umum, angkutan umum, angkutan logistik itu kan masih menggunakan BBM yang disubsidi oleh pemerintah," ujar dia.

A
Tim Redaksi
Penulis: Anna Suleta
📰 Update Terbaru