CEO JPMorgan Chase Jamie Dimon menyatakan penolakan keras terhadap draf regulasi aset digital Clarity Act yang sedang dibahas di Kongres Amerika Serikat pada Jumat (29/5/2026).
Regulasi tersebut dinilai memberikan celah bagi perusahaan kripto untuk berfungsi seperti bank tanpa pengawasan yang setara.
>>> Peneliti Austria Temukan FROST, Metode Intai Aktivitas Perangkat Lewat Latensi SSD
Penolakan ini memicu perseteruan antara industri perbankan tradisional dan perusahaan aset digital di Washington.
Aturan dalam undang-undang itu memicu perdebatan mengenai hak penerbit stablecoin dalam memberikan imbal hasil yang menyerupai bunga deposito perbankan.
"No, because it allows them to effectively pay interest on deposits, stablecoins or something like that, without protection that they should have," kata Dimon dalam wawancara bersama Maria Bartiromo di Fox Business.
Dimon mengkhawatirkan sistem ini akan menghadapi masalah besar di masa depan jika disahkan tanpa proteksi perbankan yang memadai.
"The banks will not accept it that way.
… I’m not worried about stablecoins but if it happened I’m telling you I will have nothing to do with it and it will eventually blow up," ujarnya.
>>> Pemerintah Batasi Penerima Fasilitas PPh Final UMKM 0,5 Persen
Tuntutan Persaingan Adil
Perusahaan perbankan menuntut agar setiap perusahaan kripto yang mengelola simpanan dana wajib mematuhi aturan antipencucian uang (AML), Bank Secrecy Act (BSA), dan prosedur standardisasi identitas nasabah (KYC).
Dimon membandingkan beban regulasi ketat serta kewajiban likuiditas yang dihadapi oleh bank konvensional selama ini.
"We have requirements to build branches in lower-income neighborhoods; we have liquidity requirements, capital requirements, reporting requirements; we have like 84 regulators all over us," tegas Dimon.
Ia menginginkan adanya persaingan yang setara dan adil di sektor keuangan tanpa bermaksud membatasi ruang gerak inovasi teknologi.
"We’re just saying it should be fair and equal, period, not that they can’t do what they want to do," cetusnya.
Pihak JPMorgan Chase sendiri telah memiliki instrumen internal bernama JPMorgan deposit coins.
Meskipun melihat potensi stablecoin untuk transaksi lintas batas dan pengiriman uang antarindividu, faktor risiko pergerakan dana tetap membutuhkan regulasi pemerintah yang matang.
>>> SPX Express Buka Beasiswa Super untuk Anak Mitra Kurir
"So, it’s complicated, and the government needs to do it thoughtfully. If they don’t do it thoughtfully, it will be a huge problem," tambah Dimon.
Aturan mengenai imbal hasil stablecoin dilaporkan menjadi hambatan utama yang memperlambat kemajuan pembahasan draf legislasi di tingkat senat.
Pihak bank berkomitmen akan terus menyuarakan keberatan mereka hingga proses penentuan keputusan akhir.
"We’ll fight it. If we lose, we lose, and we’ll live.
But it will be fought," pungkas Dimon.
Ketegangan antara pimpinan Wall Street dan CEO Coinbase Brian Armstrong dikabarkan telah menumpuk sejak pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos.
>>> Uni Eropa Pertimbangkan Pembekuan Batas Harga Minyak Rusia
Dilansir dari PYMNTS, Clarity Act sebelumnya telah melewati pemungutan suara markup penting pada 14 Mei, namun jalannya menuju pengesahan penuh masih belum dapat dipastikan.
