Investor domestik melakukan aksi borong besar-besaran terhadap lima saham unggulan di tengah fluktuasi pasar. Momentum ini bertepatan dengan proses rebalancing indeks MSCI menjelang penutupan perdagangan.
Saham yang menjadi sasaran utama adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN).
>>> PPIH Sumut Izinkan Keluarga Jemput Jemaah Haji Medan di Asrama Haji
Selain itu, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) serta PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga diburu investor lokal.
Data dari Stockbit Sekuritas menunjukkan akumulasi beli bersih yang signifikan. BBCA memimpin dengan net buy domestik mencapai Rp1,95 triliun.
TPIA membukukan net buy Rp1,93 triliun.
Aliran dana domestik juga mengalir ke AMMN dengan nilai bersih Rp1,61 triliun. BBRI dan BMRI masing-masing mencatatkan beli bersih sebesar Rp738 miliar dan Rp389 miliar.
Kebalikan dengan Aksi Asing
Aktivitas investor asing berbanding terbalik. BBCA terkoreksi 4,60% ke Rp5.700 setelah aksi jual bersih asing Rp1,96 triliun.
>>> Dokter Spesialis Ungkap Penyebab Pelari Sering Mulas Saat Race
TPIA melemah 6,05% ke Rp1.785 dengan net sell asing Rp1,94 triliun.
AMMN justru melonjak 6,11% ke Rp3.300 meskipun asing mencatat net sell Rp1,61 triliun.
BBRI menyusut 3,91% ke Rp2.950 dengan penjualan bersih asing Rp738,04 miliar. BMRI melemah 1,21% ke Rp4.080 dengan net sell asing Rp389,8 miliar.
Penyesuaian indeks MSCI periode Mei 2026 resmi berlaku pada penutupan perdagangan Jumat (29/5/2026).
Langkah ini merupakan kelanjutan dari hasil tinjauan indeks yang diumumkan pada 12 Mei 2026.
Empat dari enam saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes justru menguat.
>>> BRIN Bantah Keterlibatan Peneliti Dimas Fajar dalam Skandal Riset Palsu
Bahkan, Barito Renewables Energy (BREN) dan Petrindo Jaya Kreasi (CUAN) menyentuh batas auto rejection atas (ARA) dengan kenaikan +25%.
"Penguatan saham grup Barito juga memberikan sentimen positif bagi beberapa saham konglomerasi lain seperti Bukit Uluwatu Villa (BUVA) dan Sinergi Inti Andalan Prima (INET)," kata Stockbit Sekuritas dalam ulasannya, Sabtu (30/5/2026).
Koreksi saham berkapitalisasi besar, khususnya perbankan, dinilai mencerminkan penyusutan bobot dalam indeks MSCI. Penurunan bobot terjadi seiring penyesuaian porsi free float.
"Pelemahan saham blue chip menjadi pemberat IHSG pada sesi penutupan perdagangan kemarin (-0,05%) setelah bergerak positif sejak pembukaan," terang Stockbit Sekuritas.
Pemulihan sejumlah saham yang terdepak dari MSCI Global Standard Indexes memicu proyeksi positif.
>>> BPIP Wajibkan Pengibaran Bendera Merah Putih pada Hari Lahir Pancasila 2026
Kondisi ini dapat dipandang sebagai sinyal optimisme baru yang selektif setelah tekanan jual masif akibat dinamika indeks global.