Uji coba roket New Glenn milik Blue Origin berakhir dengan ledakan di landasan peluncuran. Insiden ini memicu kekhawatiran karena berpotensi mengganggu jadwal misi ambisius NASA ke Bulan.
Dampak pada Misi Moon Base I
NASA memiliki agenda penting untuk membangun pangkalan di Bulan melalui misi Moon Base I. Proyek tersebut awalnya ditargetkan meluncur paling cepat pada musim gugur tahun 2026.
>>> Rico Waas Perintahkan Perbaikan Akses Jalan TPU Marelan
Misi Moon Base I rencananya akan memanfaatkan wahana pendarat Blue Moon Mark 1 buatan Blue Origin. Wahana ini dirancang untuk dibawa ke luar angkasa menggunakan roket New Glenn.
Penggunaan roket alternatif dari kompetitor sebenarnya memungkinkan. Misalnya Falcon Heavy milik SpaceX atau Vulcan buatan United Launch Alliance.
Namun, terdapat kendala teknis pada sistem pengisian bahan bakar. Wahana Blue Moon Mark 1 mengandalkan mesin BE-7 yang memakai bahan bakar hidrogen cair dan oksigen cair.
Pendarat ini memerlukan pasokan bahan bakar tambahan dari upper stage roket New Glenn. Opsi menggunakan Falcon Heavy sulit diwujudkan karena upper stage roket tersebut memakai bahan bakar kerosin.
>>> Harga Emas di Pegadaian Kompak Naik pada 30 Mei 2026
Perbedaan jenis bahan bakar ini menjadi hambatan utama bagi wahana pendarat milik Blue Origin.
Ancaman terhadap Artemis III
Kegagalan teknis ini memaksa NASA untuk mengkaji ulang jadwal atau merombak tahapan awal pengembangan pangkalan Bulan. Kelanjutan program Artemis yang melibatkan astronaut juga ikut terancam.
NASA semula menjadwalkan peluncuran Artemis III pada tahun 2027.
>>> aespa Rilis Album LEMONADE, Gandeng G-Dragon hingga Becky G
Misi tersebut dirancang untuk menguji proses docking antara kapsul Orion dan wahana pendarat buatan SpaceX serta Blue Origin.
Pasca-ledakan New Glenn, wahana Blue Moon diperkirakan tidak akan siap beroperasi dalam 18 bulan ke depan.
Situasi ini membuat NASA harus memilih antara menunggu kesiapan Blue Origin atau melanjutkan proyek hanya bersama SpaceX.
"Penerbangan luar angkasa itu tidak mudah, dan mengembangkan roket baru yang mampu meluncurkan muatan berat sangatlah sulit," kata Administrator NASA Jared Isaacman dalam unggahan di X, dikutip dari The Verge, Sabtu (30/5/2026).
>>> FIFA Jatuhkan Sanksi Larangan Registrasi Pemain untuk Persib Bandung
"Kami akan bekerja sama dengan mitra kami untuk mendukung penyelidikan menyeluruh terhadap anomali ini, menilai dampak jangka pendek terhadap misi, dan kembali meluncurkan roket," tambah Isaacman.