Umat Buddha memulai rangkaian puncak Perayaan Hari Raya Trisuci Waisak 2570 BE/2026 yang dipusatkan di Candi Borobudur pada Jumat (29/5/2026).
Rangkaian kegiatan diawali dengan prosesi sakral pengambilan Api Dharma dari Sumber Api Alam Mrapen di Grobogan serta ritual doa bersama di Magelang, Jawa Tengah.
>>> Dokter Spesialis Jiwa Ungkap Alasan Lagu Viral Mudah Terngiang di Kepala
Prosesi di Mrapen dimulai dengan penyalaan lilin panca warna dan pembacaan paritta suci oleh berbagai majelis Buddha.
Majelis yang terlibat antara lain Sangha Theravada Dhamayut Indonesia, MBMI, Palpung, ZFZ Kasogatan, Sangha Mahayana Indonesia, dan Martrisia.
Tepat pukul 12.00 WIB, para bhikkhu sangha bersama perwakilan TNI, Polri, dan instansi terkait mengambil api abadi tersebut.
Api tersebut kemudian dikirab menuju Candi Mendut sebelum nantinya dipersembahkan di Candi Borobudur.
Pada hari yang sama, ratusan peserta mengikuti ritual doa bersama dan melarung pelita dalam kegiatan Larung Pelita Purnama Sidhi di Sungai Progo, Wanurejo, Borobudur.
>>> Saham BBCA Anjlok 4,60 Persen ke Level Terendah Lima Tahun
Para peserta menyalakan pelita pada gunungan lalu menghanyutkannya ke sungai sebagai simbol penerangan bagi semua makhluk dan pesan perdamaian.
Pihak Majelis Agama Buddha Tantrayana Zhenfo Zong Kasogatan Indonesia menjelaskan alasan penyakralan sumber api alam yang keluar dari perut bumi.
"Kenapa disakralkan dulu?
Karena sesuatu hal itu diubah bentuknya untuk menjadi Amerta, Amerta Agni itu adalah satu di antaranya untuk melaksanakan Puja atau persembahan dari simbol kehidupan yang sangat pertama kali untuk suatu kehidupan di dunia ini," kata Pandita Dharmaduta Suyamto.
Suyamto menambahkan bahwa Api Dharma menjadi simbol penerang yang diibaratkan seperti matahari yang tidak pernah lelah memancarkan cahayanya.
"Api yang disakralkan pada saat ini adalah sumber penerang, yaitu ibaratnya seperti matahari itu tak kunjung lelah, pagi datang, sore surup, itu gaya dari sebuah penerangan.
>>> Presiden Prabowo Subianto Akhiri Kunjungan Kerja di Prancis
Nah, api ini, walaupun dalam kegelapan, kalau api muncul makan sesuatu akan kelihatan jelas," tutur Suyamto.
Menurutnya, keberadaan api dalam kegelapan membantu semua makhluk melihat dengan jelas hal yang benar dan tidak benar.
Hal itu menjadi awal bagi manusia dalam berpikir, mengucap, dan bertindak.
"Hari ini telah selesai dilaksanakan prosesi pensakralan Api Abadi serta pembacaan paritta oleh berbagai mazhab dan dilakukan pradaksina.
Aktivitas ini merupakan sesuatu yang rutin setiap tahun, dalam upaya kita melakukan suatu penghargaan penghormatan kepada segenap kehidupan karena api merupakan bentuk dari semangat," jelas Nyoman Suriadarma, Direktur Urusan Agama dan Pendidikan Buddha.
>>> Rupiah Melemah ke Rp17.880 per Dolar AS pada 29 Mei 2026
Nyoman Suriadarma juga menerangkan bahwa ritual pradaksina dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada situs-situs candi Buddha dengan harapan membawa keselamatan bagi keluarga, bangsa, negara, serta kedamaian dunia.