Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah pada penutupan perdagangan akhir pekan.
Mata uang domestik tercatat turun 35 poin ke posisi Rp 17.880 per dolar AS pada Jumat, 29 Mei 2026.
>>> Cara Klaim Voucher Google Play di Android dan Browser Komputer
Sebelumnya, rupiah berada di level Rp 17.845. Pelemahan ini dipicu oleh tingginya permintaan korporasi secara musiman dan tekanan pada instrumen pasar keuangan dalam negeri.
Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah
Tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan aksi jual di pasar saham dan obligasi domestik.
Sentimen MSCI, kekhawatiran defisit fiskal, serta kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara turut memperburuk kondisi.
>>> Kunci Mempertahankan Gaya Hidup Sehat Sepanjang Tahun
Kebijakan bank sentral AS yang mempertahankan suku bunga tinggi mendorong penarikan modal asing dari pasar negara berkembang.
Investor cenderung memindahkan aset ke instrumen berisiko rendah di AS yang menawarkan imbal hasil lebih menarik.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan fluktuatif dan ditutup melemah pada perdagangan Senin depan.
Rentang pergerakan diperkirakan Rp 17.880 hingga Rp 17.940, dan untuk sepekan ke depan di kisaran Rp 17.800 hingga Rp 18.100.
>>> Toyota Vios Bekas Banyak Dicari karena Murah dan Irit BBM
Kebutuhan impor rutin dan pembayaran dividen oleh perusahaan menjadi faktor eksternal yang menekan rupiah.
Ibrahim menjelaskan bahwa permintaan dolar AS secara musiman untuk kebutuhan korporasi turut memperberat pergerakan mata uang lokal.
Dari sisi geopolitik, pelemahan rupiah bertepatan dengan perkembangan negosiasi gencatan senjata antara AS dan Iran.
>>> OJK Dukung Tokenisasi Aset Dunia Nyata untuk Perkuat Sektor Keuangan
Draf kesepakatan perpanjangan gencatan senjata selama 60 hari masih terus dibahas, mencakup program nuklir Teheran dan stabilitas kawasan.
