Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai mengganggu kinerja pelaku usaha nasional, terutama sektor yang bergantung pada impor bahan baku dan operasional valuta asing.
Fenomena ini berdampak langsung terhadap stabilitas arus kas perusahaan.
>>> Polisi Usut Dugaan Kekerasan Seksual Pemimpin Padepokan di Pekalongan
Berdasarkan data Bloomberg pada Kamis (28/5/2026) pukul 09.18 WIB, rupiah di pasar spot exchange merosot 57 poin atau 0,32 persen ke level Rp17.858 per dolar AS.
Pergerakan negatif ini melanjutkan tren Rabu (27/5/2026), saat rupiah ditutup melemah ke posisi Rp17.827 per dolar AS, sementara indeks dolar AS naik 0,14 persen ke level 99,34.
Langkah Mitigasi dari Dunia Usaha
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani menyatakan bahwa dunia usaha harus segera mengambil langkah mitigasi melalui penguatan manajemen risiko.
Penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi nilai tukar semakin ditingkatkan.
>>> Harga Emas Perhiasan di Raja Emas, Hartadinata, dan Laku Emas Kompak Turun
Penataan struktur utang juga perlu dilakukan agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing.
Langkah penyesuaian operasional kini difokuskan pada efisiensi belanja modal, optimalisasi modal kerja, peningkatan produktivitas, serta diversifikasi pemasok untuk mendorong substitusi impor.
Namun, Shinta mengakui ketersediaan produk substitusi di pasar domestik masih belum sepenuhnya memadai.
"Dengan kata lain, ruang adaptasi tetap ada, namun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini," tuturnya.
>>> Cara Cek Bansos PKH Cair Mei 2026 Secara Online Lewat HP
Sektor Manufaktur Paling Terpukul
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai sektor manufaktur paling terpukul akibat ketergantungan tinggi pada komponen luar negeri, mulai dari bahan baku, mesin, hingga energi.
"Saat rupiah melemah dan yield tinggi, maka biaya produksi dan biaya pembiayaan naik bersamaan. Itu yang membuat tekanan terhadap sektor riil menjadi cukup berat," kata Fakhrul.
Efek pelemahan ini memicu dampak yang bervariasi.
Sektor komoditas ekspor justru diuntungkan oleh pendapatan berbasis dolar AS, berbeda dari sektor domestik padat utang yang sangat sensitif terhadap suku bunga.
>>> Pemkab Pati Evaluasi Rencana Pajak UMKM Usai Gelombang Penolakan
Pebisnis disarankan untuk bergerak defensif dengan memprioritaskan likuiditas, menjaga arus kas, serta meminimalkan ketidaksesuaian valuta asing. "Jangan terlalu agresif mengambil leverage valas di tengah volatilitas tinggi," pungkas Fakhrul.