Tren reli gila-gilaan harga perak yang sempat terjadi sepanjang 2025 kini berbalik arah. Sejumlah analis memperingatkan bahwa lonjakan harga yang terlalu tinggi telah memicu fenomena demand destruction.
Fenomena ini menyebabkan penurunan permintaan secara drastis dari para pembeli komoditas logam mulia. Dampaknya, harga perak diprediksi masih bisa merosot lebih dalam dari rekor tertingginya.
>>> AKSES Kritik Ekspansi Alfamart dan Indomaret: Masuk Gang dan Kampung
Perak memiliki fungsi industri yang sangat luas, sehingga lebih sensitif terhadap siklus ekonomi dibandingkan emas.
Logam ini merupakan komponen esensial dalam berbagai produk manufaktur, mulai dari komputer, ponsel pintar, panel surya, hingga komponen otomotif.
Analis Peringatkan Harga Terlalu Mahal
Dalam riset yang dirilis pada 22 Mei 2026, UBS mengungkapkan bahwa lonjakan harga perak yang mencapai 140% pada tahun lalu mulai membuat para pelaku industri enggan membeli.
Tingginya harga komoditas ini kini menjadi beban bagi tingkat permintaan global.
"Erosi permintaan ini kemungkinan besar akan terus berlanjut selama harga tetap bertahan di level saat ini," tulis analis UBS seperti dikutip CNBC internasional, Kamis (28/5/2026).
UBS juga menambahkan bahwa perak tidak memiliki "jangkar" strategis seperti emas yang selalu ditopang oleh aksi beli kuat dari bank-bank sentral dunia.
Perak absen dari cadangan resmi sektor publik, sehingga pergerakannya jauh lebih rentan terhadap pergeseran investasi swasta serta permintaan industri.
Hal ini membuat kinerja perak berpotensi tertinggal di belakang emas.
>>> 8 Cara Menyimpan Daging Kurban agar Aman dan Tahan Lama
Senada dengan UBS, para analis dari HSBC menilai harga perak saat ini sudah fundamentally overvalued. Mereka memproyeksikan arah tren perak akan mulai terpisah dari emas.
"Kami melihat ruang penguatan lebih lanjut sudah sangat terbatas karena harga perak saat ini terlalu mahal. Rasio emas terhadap perak kemungkinan akan melebar.
Ini membuat harga perak berpotensi melandai meskipun harga emas nantinya kembali menguat," tulis HSBC dalam laporan terbarunya, Kamis.
Di sisi lain, analis dari Macquarie juga melihat kecilnya peluang bagi perak untuk mengalami rebound besar dalam waktu dekat.
Mereka memperkirakan Bank Sentral AS (The Fed) baru akan menaikkan suku bunga pada paruh pertama tahun 2027 untuk meredakan tekanan inflasi komoditas.
"Meskipun kami memperkirakan rata-rata harga perak akan bertahan di level ini sepanjang sisa tahun, volatilitas akan tetap tinggi sampai situasi di Timur Tengah mereda.
Ada risiko penurunan yang nyata jika kondisi makroekonomi global kian memburuk," pungkas analis Macquarie.
Fluktuasi Tajam di Tengah Ketegangan Geopolitik
Perjalanan harga perak memang sangat fluktuatif belakangan ini.
>>> Mandiri Herindo Adiperkasa Bagikan Dividen Tunai Rp196,74 Miliar
Puncaknya terjadi pada 28 Januari tahun ini, ketika harga perak sempat menembus angka psikologis US$ 120 per ons, sebelum akhirnya mengalami kejatuhan masif hampir 30% hanya dalam waktu satu hari.